PeristiwaSamarinda

Mirisnya, Siswi SD di Samarinda Diusir Saat Ujian Akibat Tak Miliki Handphone

Prolog.co.id, Samarinda – Sungguh malang nasib MF (10). Akibat tak memiliki handphone untuk mengikuti pembelajaran daring, ia harus diusir di tengah ujian yang berlangsung di SDN 002 Samarinda Seberang, Kalimantan Timur, pada Selasa (28/6/2022) lalu.

Ketua Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak (TRC-PPA) Kaltim, Rina Zainun bahkan turun langsung, memastikan kondisi MF yang saat ini disebut-sebut tengah mengalami trauma akibat pengusiran tersebut.

“Anak ini di suruh pulang oleh gurunya dengan nada tidak enak, karena anak ini tidak ikut pembelajaran selama setahun,” jelas Ketua TRC-PPA Kaltim Rina Zainun, Jumat (3/6/2022).

Dikatakan Rina, sapaan karib Ketua TRC-PPA Kaltim, sejak MF berumur 3 tahun, ia ditinggal wafat oleh ibu tercinta. Sedangkan, sang ayah, masih menjalani hukuman di penjara. Sedangkan, keluarga yang merawat MF juga tergolong kurang mampu, hingga tidak bisa membelikan MF handphone dan seragam.

“Anak (MF) ini juga mendapat tindak bully dari teman kelas, dia dilempar kertas dan buku saat diusir dari kelas oleh gurunya,” ucapnya

Kamis, 2 Juni 2022. Tim TRC-PPA Kaltim bersama wali MF, mendatangi sekolah, untuk melakukan mediasi. Saat itu pula, oknum guru yang belakangan menjadi sorotan, meminta maaf atas tindakan yang ia lakukan terhadap MF.

“Sudah ada titik temu dan guru yang bersangkutan sudah mengakuinya,” ucap Rina.

Sayangya, usai mediasi tersebut, keributan kembali terjadi, lantaran oknum guru lainnya tersulut emosinya, mempertanyakan keterlibatan para relawan dan wartawan, yang ingin mengetahui duduk persoalan pengusiran yang dialami MF.

“Usai mediasi sempat ada keributan, seorang guru mempermasalahkan adanya kami sebagai anggota relawan dan sejumlah wartawan,” ujar Rina.

Terkait peristiwa yang tengah dihadapi oleh siswi kelas 4 SD itu, Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Samarinda, Asli Nuryadin, mengatakan pihaknya telah memanggil kepala sekolah dan guru yang melakukan pengusiran terhadap MF.

“Artinya kita mengoreksi diri, dan tidak ada salahnya kita minta maaf,” tutur Asli, sapaannya.

Ke depan, Disdik Samarinda berjanji akan memfasilitasi MF untuk dapat mengikuti proses mengajar seperti biasanya.

“Dengan kondisi ini sudah seharusnya kita urus, dan tidak menghambat proses belajarnya, dan kami siap memfasilitasi seperti semula,” ungkap Asli menegaskan.

Ia berharap, peristiwa tersebut tidak kembali terjadi di sekolah-sekolah lain di Samarinda.

“Jangan emosional menghadapi murid-murid,” pungkasnya.

(Redaksi Prolog)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back to top button