Muhammad Agung Kisbullah, pemuda dari Desa Babulu Darat, Kecamatan Babulu, Penajam Paser Utara (PPU) memiliki sebutan khas untuk dirinya: “Terjebak di dunia pariwisata”. Istilah ini menggambarkan kecintaan dan dedikasinya dalam mengembangkan potensi pariwisata PPU. Sejak 2019, Agung menjabat sebagai ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) PPU dan juga berprofesi sebagai pemandu wisata.
Di awal masa kepemimpinannya, Agung dan anggota HPI PPU merancang dua perjalanan wisata utama: susur Sungai Tunan untuk mengamati bekantan dan menyelam di Pulau Gusung, serta perjalanan ke Desa Mentawir untuk melihat ekowisata mangrove menggunakan kapal kelotok dari Penajam.
Kecintaan Agung pada pariwisata tak lepas dari pengalaman hidupnya. Separuh hidup pemuda kelahiran 1993 ini memang dihabiskannya mencicipi keindahan alam. Utamanya wisata yang ada Pulau Jawa ketika masih berstatus pelajar di Banyuwangi, tanah kelahirannya. Saking tertariknya Agung mengambil sertifikat diving (menyelam), karena tempat kelahirannya itu terkenal dengan pesona keindahan bawah laut. Seperti Pantai Bama, Pantai Wedi Ireng, dan lainnya.
Agung melanjutkan kuliah di Yogyakarta. Selama mengemban pendidikan di sana, dia tak mau melewatkan kesempatan mendaki sejumlah gunung. “Gunung pertama saya yang didaki sudah pasti Kawah Ijen (Banyuwangi). Kemudian pas kuliah, saya mendaki berbagai gunung. Mulai Merapi hingga Semeru,” kata pemuda lulusan Universitas Islam Indonesia (UII) ini.
Alhasil, kecintaannya terhadap alam dan pengalaman menjelajah, jadi penguat Agung bertahan sampai sekarang untuk mengenalkan pariwisata PPU.

“Saya memang punya passion di situ (traveling). Selama tinggal di PPU, ternyata banyak potensinya. Cuman belum maksimal pengelolaannya,” kata Agung.
Setahun setelah HPI PPU dibentuk, tepatnya tahun 2020, covid-19 hadir. Semua rencana HPI untuk memetakan destinasi unggulan PPU terhambat gegara pagebluk. Adanya pembatasan aktivitas orang dan penutupan sejumlah fasilitas publik, membuat kegiatan organisasinya juga terhenti.
“Baru dua kegiatan, semuanya terhalang covid-19. Jadinya mandek,” cakap Agung.
Penyebaran virus corona menghantam motivasi dan mental Agung. Dia dan koleganya di HPI mesti memutar otak agar bisa memajukan pariwisata PPU. Pelbagai hal yang sudah masuk daftar rencana kandas dilaksanakan.
“Program awal kami itu membentuk destinasi wisata. Lalu mengarahkan teman-teman pokdarwis (kelompok sadar wisata) bisa memasarkan wisata di tempatnya,” sebut Agung.
Masalah lain muncul di tengah pandemi. Agung mulai ditinggalkan anggotanya. Awal pembentukan struktur pengurus, HPI PPU beranggotakan 22 orang. Hingga saat ini, hanya 12 orang, termasuk dirinya yang berpegang teguh pada organisasi tersebut.
“Istilahnya, 12 orang ini yang bisa dihubungi kalau ada kegiatan,” kata Agung berkelakar.
HPI, kata Agung, adalah organisasi yang menampung profesi pemandu wisata. Secara ekonomi, di PPU, pendapatan yang dihasilkan dari pekerjaan ini masih minim.
Agung sadar, tak bisa sepenuhnya menggantungkan nasibnya pada tour guide, apalagi sektor pariwisata di Benua Etam, khususnya pariwisata PPU, belum sepenuhnya dilirik. Alhasil, ia turut membuka toko kelontong di rumah yang dikelola bersama istri, untuk menafkahi kedua anaknya.
“Tour guide masih sedikit dipakai,” tegasnya.
Agung mulai mendorong anggota yang tersisa untuk meningkatkan kemampuan kepariwisataan. Pola pikir mulai diubah Agung. Berbagai macam pelatihan daring selama covid-19 dimanfaatkan HPI PPU.
“Pas covid-19, kami hanya melakukan kegiatan sertifikasi untuk meningkatkan potensi individu di bidang kepariwisataan. Pelatihannya zoom. Berlangsung dari 2020 sampai 2022,” terang Agung.
Sebanyak 12 orang tersebut mengikuti pelatihan pramuwisata di berbagai tingkatan, yang digelar pemerintah daerah sampai pemerintah pusat. Sekarang, ada 4 anggota HPI yang punya sertifikat Training of Trainer (Tot), 2 orang pemegang sertifikat pramuwisata tingkat madya. Sisanya, mengoleksi sertifikat kepemanduan.
Wisatawan Meningkat, Tapi Pariwisata PPU Tak Dilirik
Awal 2022, pemerintah mulai melonggarkan pembatasan orang dan penggunaan masker di ruang publik. Pada periode ini juga, Presiden Joko Widodo alias Jokowi memilih Nusantara sebagai nama ibu kota negara baru, yang sebagian besar teritorinya ada di Sepaku, salah satu kecamatan di PPU. Paruhan Nusantara lainnya ada di Kecamatan Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara.
Wilayah, yang kini dikenal Ibu Kota Nusantara (IKN) itu meliputi daratan seluas 256.142 hektar dan perairan laut seluas 68.189 hektar. Pembangunan IKN, yang melibatkan banyak orang berdampak pada tingkat kunjungan ke PPU.
Pada 2022 lalu, Dinas Pariwisata (Dispar) Kaltim mencatat, kunjungan wisatawan nusantara (turis domestik) ke PPU mencapai 164,5 ribu orang. Angka tersebut meningkat berkali-kali lipat di tahun 2023, yang mencapai 752,7 ribu orang.
Ada dua bandar udara yang menjadi akses penting menuju IKN. Pertama Bandar Udara APT Pranoto Samarinda. Dari Kota Tepian, perjalanan darat menuju IKN bakal ditempuh sekitar 3 jam. Kedua, yang terdekat, Bandar Udara SAMS Sepinggan Balikpapan yang berstatus bandar udara internasional.
Di sisi lain, Otorita IKN sedang membangun Bandar Udara VVIP di Kecamatan Penajam. Berjarak sekitar 25 kilometer dari Bandara Sepinggan Balikpapan dan sekitar 107 km dari Bandara APT Pranoto. Bandara VVIP tersebut ditarget rampung pada tahun ini.
Kemudian, berdasarkan hasil survei Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim pada 2022, ada 4 jenis objek wisata di PPU. Di antaranya wisata alam 5 objek, wisata sungai 1 objek, dan wisata bahari (termasuk pantai) 2 objek. Terakhir, objek wisata hutan mangrove.
Muhammad Agung Kisbullah menilai, jumlah objek wisata tersebut pasti meningkat, seiring masifnya pembangunan IKN. Bahkan, ketika Jokowi memilih Kaltim sebagai ibu kota negara anyar di medio 2019, Agung memproyeksikan ribuan orang bakal datang ke PPU, untuk menyaksikan langsung tonggak sejarah pemindahan ibu kota, dari DKI Jakarta menuju Benua Etam.
“Pariwisata sangat potensi di PPU ketika peletakkan batu pertama di Titik Nol Nusantara,” kata Agung.
Sebelum serangan pandemi, Agung menyampaikan ide-idenya terkait kelebihan pariwisata PPU dalam menyambut IKN kepada otoritas terkait. Tapi tak terlalu digubris. Malahan, sebagian besar kegiatan pariwisata, termasuk pemenuhan sertifikat untuk kompetensi, merupakan inisiatif HPI PPU.
Peningkatan kunjungan di PPU, juga disadari Agung. Menurutnya yang jadi kenyataan pahit, hal tersebut tidak dibarengi dengan minat kunjungan wisata. Padahal, kata dia, PPU punya sejumlah destinasi wisata potensial. Entah kurangnya informasi atau kurangnya peran-peran dari pihak terkait untuk memajukan pariwisata PPU.
“Makanya, lewat HPI saya ingin meningkatkan kesadaran pemuda untuk menjadi guide,” kata Agung.
Belakangan terakhir, HPI PPU fokus pada pengembangan destinasi yang punya kapasitas besar menjadi tempat wisata berkelanjutan. Seperti Penangkaran Rusa Sambar di Desa Api-Api, Kecamatan Waru. Di sana, merupakan rumah bagi endemik Kaltim, rusa sambar yang jumlahnya menurun setiap tahun akibat kerusakan habitat dan perburuan liar.
“Di sana itu bagus jadi eduwisata dan ekowisata,” imbuh Agung.
Kemudian, ada Pulau Gusung, wisata bahari yang keindahan lautnya belum banyak dikenal orang. “Masih banyak terumbu karang di sini. Bisa juga berenang di dekat ikan nemo,” sebutnya.
Tak kalah menarik, di Desa Babulu Laut, yang terkenal dengan hasil lautnya berlimpah. Juga keindahan blue plankton, yang membuat air laut bersinar di malam hari. HPI menggelar event festival seafood selama 4 kali dalam setahun untuk mengenalkan tempat ini.
“Jika susur malam hari di Desa Babulu Laut, maka kita akan menikmati pemandangan unik air pantai yang berwarna biru menyala ketika digerakkan atau saat terkena ombak,” ucap Agung, bersemangat bercerita tentang desanya itu.
Ada juga destinasi wisata lainnya, yang belum terlalu dijamah, seperti Air Terjun Tembinus dan Bukit Bangkirai. Sementara Goa Tapak Raja di Desa Wonosari, Sepaku, lokasi wisata paling siap di antara yang lain. Lantaran dibangun dengan bantuan Otorita IKN bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).
“Sekitaran goa tapak raja itu tambang batu bara, sekarang dibangun wisata,” cetus Agung. Pengunjung juga bisa membawa oleh-oleh batik sekar buen khas PPU. Bermotif rusa sambar, letaknya di Desa Bangun Mulya, Kecamatan Waru.
Melihat segudang potensi wisata yang ditawarkan PPU, Agung mengakui bahwa HPI tidak bisa berjalan sendiri. Perlu uluran tangan yang dapat mengangkat ketenaran daerah penyangga IKN itu. Agar bisa dikenal seluruh penjuru dunia.
“Saya sadar perlu waktu dan adaptasi yang cukup lama untuk itu. Ia meminta pemerintah lebih serius untuk meningkatkan kesadaran potensi wisata di PPU,” tandas pria kelahiran 1993 itu.

Green Tourism Desa Wisata
Pemerintah melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) menyadari potensi PPU, yang bisa dikembangkan dengan konsep pariwisata berbasis green tourism. Menurut Kepala Dinas Pariwisata Kaltim, Ririn Sari Dewi, pihaknya melakukan pemetaan destinasi desa wisata di IKN.
Adapun empat destinasi wisata yang mulai dipromosikan Kemenparekraf. Yakni Desa Wisata Nipah-Nipah (Penajam), Desa Wisata Bangun Mulya (Waru), Desa Wisata Waru Tua (Waru), dan Desa Wisata Mentawir (Sepaku).
Di sisi lain, potensi yang dimiliki setiap desa wisata di PPU juga sangat komplit. Baik itu memiliki potensi alam yang melimpah, budaya, hingga ekonomi kreatif yang berdaya saing.
“Tentunya ini menjadi tantangan tersendiri, utamanya dalam menghadapi proses setelah IKN itu sudah aktif, bagaimana membangun paket wisata yang cukup terjangkau dari harga, fasilitas dan segalanya,” kata Kepala Dinas Pariwisata Kaltim, Ririn Sari Dewi, pada pertengahan Mei 2024 lalu, di Samarinda.
Menurut Ririn, dengan adanya IKN, ke depan diperkirakan terjadi penambahan penduduk mencapai 16.000 hingga 20.000 jiwa.
“Bertambahnya penduduk, menjadi multiplier effect bagi pelaku ekonomi kreatif,” jelas Ririn.
Catat Akar Budaya di Living Museum
Pembangunan IKN tahap pertama (2022-2024) terbagi dalam tiga alur kerja besar, yakni pembangunan perkotaan, infrastruktur, dan ekonomi. Menurut Deputi Bidang Sosial, Budaya, dan Pemberdayaan Masyarakat Otorita IKN, Alimuddin, salah satu tujuan pembangunan IKN adalah pariwisata.

“Bukan hanya persoalan budaya, tapi juga pariwisata alam,” kata Alimuddin, saat diwawancarai lewat saluran telepon, Rabu, 22 Mei 2024.
Alimudin menegaskan, keunikan IKN sebagai pemerintahan dan kota yang berkonsep forest city, bakal jadi tarik yang akan mengundang orang berbagai belahan dunia untuk datang. “IKN itu sendiri akan menjadi sentral wisata utama,” ucapnya.
Otorita juga berencana membangun sebuah living museum yang tujuan memperkuat identitas lokal. Museum tersebut menjadi wadah informasi, bagi para pengunjung yang ingin mengenal IKN dan budaya di sekitarnya.
“Masyarakat lokal, seperti Suku Paser, aka diceritakan pola tata kehidupan masyarakatnya. Sehingga tetap mempertahankan kearifan lokal,” kata Alimuddin.
IKN Dianggap Jadi Bonus Dalam Peningkatan Pariwisata Kaltim
Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian mengamini, selain pekerja, orang datang ke IKN adalah mereka yang penasaran dengan wujud pembangunan ibu kota baru itu. “Orang ini ingin melihat seperti apa fisiknya (IKN),” sebut Hetifah, via telepon, Jumat, 24 Mei 2024.

Hetifah juga menyebut, ibu kota baru memberikan bonus bagi daerah-daerah di sekitaran IKN. Terbukti, pada 2022 lalu tingkat hunian hotel di Kaltim tertinggi se-Indonesia. Ia berpendapat, dengan data tersebut, bisa menginspirasi pemerintah daerah maupun pelaku pariwisata, untuk berkreasi di subsektor wisata, MICE: meeting, incentive, convention, exhibition.
“Contohnya MTQ Nasional nanti. Sekitar 20 ribu orang akan hadir ke IKN. Atau misalnya ada perusahaan yang lagi meeting di Samarinda, karyawannya bisa sekalian diajak ke IKN. Bisa juga karyawan IKN sendiri, yang ingin menjelajah sekitar. Jadi daerah seperti Penajam harus bersiap,” terang politikus Partai Golkar itu.
Kendati demikian, ada sejumlah catatan yang disampaikan Hetifah. Dia menyoroti banyaknya pengembangan wisata berbasis sungai di Kaltim. Sehingga persoalan keamanan perlu perhatian serius. Lalu, kualitas sumber daya manusia (SDM) kurang kompeten berbanding terbalik dengan jumlah hunian hotel.
“Bukan cuman ilmunya yang kompeten, dia harus tersertifikasi dan memiliki sikap yang ramah,” kata Hetifah. (Tim Redaksi Prolog)


