Ningsih, 32 tahun, tak henti-hentinya memantau layar ponsel. Dalam beberapa waktu terakhir, dia sibuk mencari artikel rekomendasi mengenai Taman Kanak-kanak (TK) jempolan di Samarinda. Kualitas pendidikan dan program yang ditawarkan menjadi fokus pencariannya. Dia ingin memastikan pendidikan terbaik bagi putrinya, Fatima. Pada September mendatang, buah hatinya itu genap lima tahun.
“Saya ingin memberikan yang terbaik untuk Fatima,” kata ibu rumah tangga itu.
Sejak Fatima berumur 3 tahun, Ningsih dan suaminya, yang bekerja di sektor industri kreatif, mulai menabung untuk biaya pendidikan anak mereka.
Keinginan itu tertunda. Bukan tanpa alasan. Ningsih ingin mendampingi tumbuh kembang Fatima.
“Saya masih ingin bermain bersama, mengaji bersama, dan salat bareng,” cetus perempuan lulusan Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Mulawarman itu.
Menurut Ningsih, usia anaknya sekarang adalah waktu yang tepat untuk pergi ke TK. Fatima bisa bermain bersama teman-teman baru. Hanya saja, hasil pencarian Ningsih tentang TK unggulan, perlu merogoh kocek dalam. Namun di satu sisi, pikiran Ningsih mulai terbuka akan pentingnya pendidikan anak usia dini untuk perkembangan sosial putirnya.
“Saya ingin Fatima bersekolah di TK yang bagus, tapi biayanya mahal sekali,” keluh Ningsih.
Manfaat Pendidikan Anak Usia Dini
Keluarga Ningsih, hanyalah satu dari sekian banyak keluarga di Samarinda yang mulai memandang pendidikan anak usia dini sebagai hal penting. Elvi, seorang ibu berusia 37 tahun, mengaku merasakan manfaat besar dari pendidikan awal.
Putrinya, Syifa (8), yang sekarang duduk di bangku kelas 2 SD, disebut Elvi mengalami perkembangan atraktif. Baik secara akademik maupun sosial. Syifa mudah bergaul dengan teman sebayanya. Lalu, minat Syifa untuk belajar semakin besar.
“Syifa saya masukkan TK pas umurnya 4 tahun,” kata Elvi.
Syifa, kata Elvi, disekolahkan di TK terdekat di kawasan tempat tinggalnya di Samarinda Utara. Biayanya terjangkau. Suaminya yang berprofesi sebagai sopir daring sanggup untuk memenuhi pendidikan Syifa. Meski dalam beberapa hal, pengeluaran atas kebutuhan dasar ada yang ditangguhkan.
“Saya merasakan manfaat besar dari pendidikan TK yang dimulai sejak dini,” sebut Elvi.
Pandangan Elvi didukung penelitian yang dilakukan oleh seorang ekonom peraih nobel, Profesor James Heckman. Penelitan ini mengungkapkan, berinvestasi pada anak sejak usia dini memberikan pengembalian yang signifikan, baik dalam bentuk pencapaian akademik maupun kesuksesan karir di masa depan.
Analisis Heckman terhadap program Perry Preschool menunjukkan pengembalian investasi sebesar 7 persen hingga 10 persen per tahun. Brdasarkan peningkatan pencapaian sekolah dan karier serta pengurangan biaya dalam pengeluaran pendidikan perbaikan, kesehatan, dan sistem peradilan pidana.
Hal ini sejalan dengan Rencana Strategis (Renstra) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, Teknologi (Kemendikbudristek) 2020-2024. Usia dini dinilai merupakan usia emas tumbuh kembang anak. Investasi pada usia ini merupakan investasi yang memberikan rate of retruns dibandingkan investasi di seluruh periode siklus hidup lainnya. Dengan kata lain, PAUD merupakan kunci dari keberhasilan pembangunan sumber daya manusia (SDM).
Apa yang Ditawarkan TK Unggulan?

Kesadaran orangtua terhadap pentingnya pendidikan anak usia dini memicu lonjakan permintaan di berbagai TK di ‘Kota Tepian’ Samarinda. Tingginya permintaan tersebut dibarengi dengan biaya yang fantastis.
Salah satu yang menonjol adalah TK Islamic Center Kaltim. Setiap tahun ajaran baru, lembaga pendidikan tersebut menerima sekitar 151 hingga 152 anak. Bahkan, banyak orangtua yang telah melakukan pemesanan jauh-jauh hari agar anaknya bisa sekolah di sana.
“Untuk masuk ke sekolah ini, orang tua harus inden atau melakukan pemesanan jauh-jauh hari. Kami lebih mementingkan kualitas daripada kuantitas,” kata Kepala Sekolah TK Islamic Center, Saidatul Husna, Jumat, 23 Agustus 2024.
Biaya yang dibanderol TK Islamic Center tak sedikit. Orangtua harus membayar sebanyak Rp 12.200.000 untuk uang pangkal. Sementara biaya bulanan dikenakan Rp 1.000.000. Di sisi lain, sekolah ini menjanjikan pelayanan pendidikan yang sepadan.
“Kami tentunya memberikan pelayanan yang terbaik sesuai dengan biaya yang dikenakan,” kata perempuan yang akrab disapa Bu Ida itu.
TK Islamic Center menerapkan kurikulum Merdeka dalam metode belajar. Setiap kelas diisi oleh 22 hingga 24 siswa, dan dua pengajar. Sekolah ini fokus pada pengembangan karakter dan kepribadian anak.
Selain bermain bersama, anak-anak diajarkan berbagai keterampilan sosial. Seperti bagaimana berkolaborasi dalam kelompok kecil dan besar, serta memecahkan masalah bersama. “Tolak ukur kami adalah bagaimana anak-anak dapat beradab, mengelola emosi, dan bekerja sama dengan teman-teman mereka,” jelas Ida.
TK Islamic Center juga serius dalam meningkatkan kualitas pengajar. Setiap dua tahun sekali, mereka mengadakan kegiatan bersama konsultan untuk membangkitkan semangat mengajar para guru. Selain itu, sekolah memberikan kebebasan kepada para pengajar untuk terus meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mereka.
“Kami mendorong guru untuk selalu belajar dan berinovasi dalam metode pengajaran,” kata Saidatul.
Biaya Biaya Pendidikan TK di Samarinda
Menukil data dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Samarinda, terdapat 453 TK, yang tersebar di 10 kecamatan. Sebanyak 441 di antaranya adalah TK swasta. Sementara 12 sisanya adalah TK berstatus milik pemerintah alias negeri.
Terkait biaya pendidikan anak usia dini memang menjadi pilihan bagi orangtua. Keunggulan yang ditawarkan TK swasta di Samarinda bermacam-macam. Ada sekolah yang menyediakan sistem belajar privat, metode belajar bertaraf internasional hingga menawarkan kegiatan ekstrakurikuler di bidang bahasa Inggris, seni, olahraga atau musik.
Informasi yang dihimpun Prolog, harga yang ditetapkan institusi pendidikan beragam dan menciptakan segmen tersendiri.
Segmen pertama, yang mencakup TK dengan fasilitas standar, biaya pendidikan berkisar antara Rp 350 ribu hingga Rp 1 juta untuk uang pangkal. Sedangkan, Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) yang harus dibayar setiap bulannya berkisar antara Rp 100 ribu hingga Rp 500 ribu.
Segmen kedua, yang menawarkan pendidikan unggulan, menuntut biaya yang jauh lebih besar. Uang pangkal di TK-TK ini bisa mencapai antara Rp 2 juta hingga Rp 13 juta, sementara SPP bulanan berkisar antara Rp 1 juta hingga Rp 1.500.000.

Ironi pendidikan anak usia dini
Meski diakui sebagai fondasi utama dalam membentuk karakter dan kemampuan dasar anak, tantangan dalam penyelenggaraan PAUD masih begitu kompleks dan berlapis. Sebuah analisis dari theconversation.com, platform media digital nirlaba yang berfokus pada penelitian sains, mengungkapkan, saat ini angka partisipasi kasar (APK) anak-anak di layanan PAUD baru mencapai 45,87 persen. Dari total 17,7 juta anak berusia 3-6 tahun di Indonesia, hanya sekitar 8,1 juta yang telah mengakses layanan PAUD.
Dari analisis platform itu juga, disebutkan bahwa pengelolaan Pendidikan pada level PAUD, sebagian besar diserahkan kepada masyarakat dan lembaga pendidikan sendiri.
Akibatnya, sebagian besar PAUD dikelola oleh pihak swasta dan sukarela masyarakat, yang memicu privatisasi serta kesenjangan yang semakin tinggi antara PAUD di perkotaan dan pedesaan.
Kepala Disdikbud Samarinda, Asli Nuryadin mengamini kalau APK tingkat PAUD masih rendah. Dia berpendapat, minat masyarakat untuk menyekolahkan anaknya ke PAUD atau TK belum optimal. Pada 2020, APK PAUD Samarinda hanya mencapai 30 persen. Jumlah tersebut masih di bawah rata-rata APK nasional.

Guna meningkatkan angka partisipasi tersebut, Pemkot Samarinda menerbitkan Peraturan Wali Kota (Perwali) Samarinda Nomor 31 Tahun 2021 tentang Pedoman Pelaksanaan Program Penuntasan Pendidikan Anak Usia Dini Satu Tahun Pra Sekolah Dasar.
Regulasi ini, kata Asli, bertujuan mendorong orangtua lebih antusias menyekolahkan anaknya di TK. Anak yang pernah mengemban pendidikan usia dini di lembaga tertentu, bakal diprioritaskan untuk masuk ke jenjang SD. Kendati demikian, persyaratan usia, yakni 7 tahun untuk SD tetap berlaku.
“Kami ingin orang tua lebih ramai menyekolahkan anak-anak mereka di PAUD atau TK. Karena anak yang dari pernah di PAUD atau TK itu memang beda. Lebih matang,” kata Asli, kata Asli, Senin, 19 Agustus 2024.
Kondisi TK Swasta Memprihatinkan
Tantangan lainnya, sebut Asli, tidak semua TK swasta di Samarinda memiliki fasilitas yang memadai. Kebanyakan memprihatinkan. Beroperasi dengan kondisi yang serba terbatas. Bahkan ada yang harus menyewa bangunan untuk menjalankan kegiatan belajar-mengajar.
“Kasihan ini yang pengelola swasta. Enggak semua hebat ya,” ungkap Asli.
Meski pemerintah telah memberikan dukungan melalui program Bantuan Operasional Sekolah Daerah (BOSDA), Asli mengakui, bantuan tersebut belum cukup merata dan proporsional untuk membantu sekolah-sekolah yang kurang mampu.
“Ada sekolah swasta yang favorit dan mahal, sementara sekolah yang kondisinya memprihatinkan justru mendapat bantuan yang minim karena jumlah muridnya sedikit,” kata Asli.
Asli menjelaskan, BOSDA yang diberikan kepada sekolah didasarkan pada jumlah murid yang terdaftar. “Kalau muridnya hanya 30, maka bantuannya juga kecil sekali,” ujarnya.
Menurut Asli, bantuan BOSDA yang diberikan untuk tingkat SD, SMP, hingga PAUD sebenarnya bertujuan untuk menutupi biaya operasional seperti alat tulis, listrik, dan air, bukan langsung untuk murid.
Sekolah-sekolah dengan jumlah siswa sedikit, seperti banyak PAUD, menerima bantuan yang juga terbatas, meski mereka seringkali memiliki kebutuhan operasional yang sama dengan sekolah lain yang lebih besar.
Upaya Pemerataan Pendidikan
Pemkot Samarinda berupaya menyelesaikan persoalan ini secara bertahap. Dimulai dengan rehabilitasi TK negeri.
Pada tahun 2024, anggaran sebesar Rp 6,4 miliar telah dialokasikan untuk berbagai proyek rehabilitasi dan pembangunan di beberapa TK Negeri. Sementara untuk tahun 2025, anggaran pengembangan direncanakan meningkat menjadi Rp 10,3 miliar, yang akan digunakan untuk rehabilitasi pagar, ruang kelas, aula, dan pengawasan di beberapa TK Negeri.
“Persoalan ini enggak bisa parsial. Harus semua. Karena istilah saya, pendidikan itu holistik. Kita perlu ubah cara berpikir. Jangan lagi fokus pada pendidikan tinggi atau SMA, tapi lebih fokus ke usia dini,” tandasnya.
Sementara itu, pakar pendidikan dari Universitas Mulawarman, Susilo memandang, tantangan utama dalam mengelola pendidikan anak usia dini adalah sumber pendanaan dari lembaga pendidikan.

Menurutnya, TK negeri memiliki batasan dalam penggunaan dana sesuai regulasi, yang sering kali menghambat perkembangan sekolah dan peningkatan kualitas SDM. Sementara itu, TK swasta memiliki kebebasan lebih dalam pengelolaan dana, memberikan peluang lebih untuk berkembang.
“Sekolah negeri harus menyesuaikan dengan aturan yang ketat, dan jika pendanaannya kurang bagus, perkembangan sekolah dan sumber daya manusianya tidak bisa melompat jauh,” jelas Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Mulawarman itu.
Susilo menilai, banyaknya TK swasta sangat positif karena meningkatkan minat masyarakat terhadap PAUD. Kendati demikian, kebebasan di TK swasta seperti pedang bermata dua.
TK swasta memiliki fleksibilitas lebih dalam mengelola keuangan dan meningkatkan kualitas pendidikan. Namun di sisi lain, tanpa regulasi yang memadai, biaya pendidikan bisa menjadi sangat tinggi dan eksklusif.
“Jangan sampai biaya tinggi di TK swasta menyebabkan kesenjangan dan membuat beberapa sekolah swasta kekurangan murid,” tuturnya.
Masyarakat menengah ke atas cenderung mencari jaminan kualitas pendidikan meskipun harus membayar mahal. Sedangkan masyarakat menengah ke bawah lebih memprioritaskan ketersediaan pembiayaan.
“Pemerintah perlu menengahi perbedaan ini dengan meningkatkan kualitas di sekolah-sekolah negeri agar merata,” tandasnya.
Harga Melejit Tetap Tak Menjerit
Menurut pengamat ekonomi dari Universitas Mulawarman, Hairul Anwar alias Cody, fenomena kesadaran akan pentingnya pendidikan anak usia yang meningkat. tidak lepas dari pengaruh keluarga muda yang mulai mendominasi demografi Indonesia.

“Harus diakui, banyak keluarga muda yang mendominasi. Mereka mengonsumsi barang dan jasa dengan sangat berhati-hati, berdasarkan referensi dan rekomendasi. Salah satu yang mereka perhatikan adalah pentingnya pendidikan anak,” ujar Cody.
Mahalnya biaya pendidikan usia dini tetap menjadi perbincangan di kalangan masyarakat. “Dalam konteks ekonomi, mahal itu adalah perbandingan antara manfaat yang diterima dengan pengorbanan yang dilakukan untuk mendapatkannya,” jelas Cody.
Dia menerangkan, jika sebuah sekolah menawarkan biaya yang tinggi, maka seharusnya kualitas pendidikan yang diberikan setara dengan harga tersebut. “Orang tua berkorban demi masa depan anak-anak mereka, dengan harapan bahwa investasi ini akan memberikan manfaat yang setimpal,” tambahnya.
Selain itu, Cody juga mengamati adanya segmentasi pasar dalam pendidikan anak usia dini. “Sekolah PAUD atau TK sekarang sudah menjadi bisnis yang menggiurkan. Terjadi segmentasi pasar di industri ini. Ada yang mahal, ada yang murah, bahkan gratis,” ungkap Cody.
Hal ini memungkinkan orang tua untuk memilih sekolah yang sesuai dengan kemampuan finansial mereka, mulai dari playgroup, kelompok bermain, hingga Taman Penitipan Anak (TPA).
“Dengan banyaknya pilihan, orang tua bisa memilih yang terbaik untuk anak mereka,” ujarnya.
Cody juga menyoroti pentingnya peran pemerintah dalam mengawasi kualitas pendidikan, terutama di tingkat anak usia dini. “Pemerintah harus memastikan ada standar kualitas yang jelas, mulai dari guru, kurikulum, hingga fasilitas sekolah,” katanya. (Tim Redaksi Prolog)


