Riwayat pencarian gawai pintar Diah Pitaloka menjelang Pilgub Kaltim 2024 tak lepas dari topik politik. Berbagai konten media sosial–Instagram dan TikTok–hingga berita-berita di pelbagai media daring ia telusuri.
Perempuan berumur 22 tahun ini rela menghabiskan berjam-jam untuk menggali informasi sejumlah figur yang digadang-gadang akan memimpin Benua Etam kelak. Membaca gagasan, biodata, dan rekam jejak masing-masing kandidat yang sudah mendaftar ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kaltim.
Meski kerap berseluncur di dunia maya untuk menentukan pilihannya, rupanya Diah masih juga gamang menentukan kandidat mana yang harus dicoblosnya pada 27 November mendatang. Pandangannya masih abu-abu. Belum bisa menerawang kandidat gubernur yang berkomitmen penuh atas isu yang jadi perhatiannya.
Ia mendambakan figur pemimpin yang yang peduli pada persoalan lingkungan. Menurutnya, kerusakan ekosistem akibat bisnis ekstraktif di Kaltim masih menjadi momok menyeramkan yang belum dientaskan para petinggi.
Dampak lingkungan, konflik warga dengan perusahaan tambang batu bara, kematian anak di lubang tambang, hingga lahan pertanian yang semakin menyempit, hingga kini belum teratasi.
“Di Kaltim masih banyak bekas lubang tambang yang menganga,” tegas Mahasiswi Fakultas Hukum Mulawarman itu.
Diah memang punya atensi tinggi terhadap ketatanegaraan. Mendorongnya getol meningkatkan wawasan politik. Pilgub tahun ini merupakan yang pertama bagi Diah.
“Aku merasa harus mencari tahu tentang kandidat pilgub. Biar enggak fomo (fear of missing out) pas nyoblos nanti,” katanya.
Kendati sudah cukup banyak membaca, Diah masih ragu dengan informasi yang dikonsumsinya. Bahkan, ia cenderung kebingungan.
“Jujur aku di posisi bingung. Di satu sisi, semua kandidat punya isu tertentu. Apalagi mereka ingin menyerap aspirasi pemuda,” terang perempuan kelahiran Samarinda, 23 Oktober 2002 itu.
Satu hal yang pasti, Diah tak ingin hak pilihnya berlabuh di tempat yang salah. Ia sadar betul, gen Z seperti dirinya punya pengaruh besar terhadap perolehan suara pilgub.
“Makanya aku usahakan banget membaca. Cari tahu sekeluarga-keluarganya, sampai ke dinastinya. Biar aku paham, orang yang akan aku pilih ini benar. Aku enggak mau suaraku untuk orang yang salah,” ucap Diah.
Setali tiga uang, kegelisahan yang sama juga dirasakan Fifi (24). Meski tak menaruh perhatian yang besar atas urusan politik, pemilik nama lengkap Firsty Finora Putri itu mengandalkan lingkaran pertemanannya untuk memahami siapa yang layak dipilih.
“Aku jujur belum tahu siapa kandidat Pilgub Kaltim 2024. Yang aku tahu, ada satu yang pernah menjabat sebagai gubernur,” kata Fifi.
Media sosial memang menjadi sumber informasi yang dominan bagi Fifi. Tetapi ia tak hanya bergantung pada arus informasi daring. Ia lebih percaya pada hasil diskusi bersama teman-teman yang dianggap kritis dalam mengurai urusan politik.
“Sejauh ini aku tahu tentang kandidat pilgub dari Instagram dan obrolan sama teman aja sih,” ujarnya.
Bukan tanpa alasan Fifi menaruh kepercayaan pada percakapan ini. Menurutnya, teman-teman yang lebih ‘open minded’ bisa memberikan pandangan yang lebih objektif.
“Aku enggak mau ngobrol soal politik sama teman-teman yang afiliasinya jelas ke salah satu kandidat,” tegasnya.
Meski dara kelahiran Yogyakarta, 22 Juli 2000 itu terkesan santai dalam menyerap informasi politik, Fifi tetap menekankan betapa pentingnya Pilgub Kaltim kali ini.
Sama seperti Diah, hajatan elektoral tersebut bakal jadi momen bersejarah bagi Fifi. Lantaran Fifi akan menyoblos kepala daerah untuk pertama kali. Bersama gen Z lainnya, Pilgub menjadi penentu masa depan, terutama dalam hal pekerjaan.
“Penting banget. Jangan sampai diarahkan ke sembarangan,” ujar Fifi serius.
Isu lapangan pekerjaan memang menjadi perhatian utama Fifi. Di tengah pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) yang tiba di belahan Kaltim, banyak perusahaan membuka lowongan kerja. Namun, kenyataan pahit dihadapi ketika banyak posisi justru diisi oleh pekerja dari luar daerah.
“Banyak lowongan kerja, tapi sulit dipenuhi oleh SDM di Kaltim, apalagi yang baru lulus. Akhirnya, perusahaan ambil SDM dari luar,” ungkapnya.
Hal ini memicu kekecewaan, tapi Fifi menyadari masalah ini juga ada di generasinya sendiri. “Itu kan salah kita juga, karena kita tidak meningkatkan kualitas. Apalagi mau ada IKN di sini. Gen Z mesti memperkuat lifeskill-nya,” ucap Fifi.
Fifi berharap, pemimpin yang terpilih nanti mampu memprioritaskan solusi nyata bagi tantangan yang dihadapi anak muda Kaltim. Baginya, gen Z bukan hanya perlu diberikan lapangan pekerjaan, tapi juga dibekali keterampilan yang relevan untuk bersaing di pasar kerja.
“Kami di Kaltim, terutama yang gen Z, enggak boleh lagi jadi penonton. Kita harus siap mengisi ruang yang ada,” tandasnya.
Pertarungan Isran-Hadi dan Rudy-Seno di Tengah Dominasi Pemilih Muda

Sejauh ini, ada dua kandidat dalam pilgub yang telah mendaftarkan diri ke KPU Kaltim pada rentang waktu 27-29 Agustus 2024. Mereka adalah pasangan petahana Isran Noor dan Hadi Mulyadi. Penantangnya, Rudy Mas’ud, yang dikenal sebagai anggota DPR RI sekaligus Ketua DPD Partai Golkar Kaltim dan Seno Aji, sosok dari Partai Gerindra, yang kembali terpilih menjadi anggota DPRD Kaltim pada Pemilu 2024 lalu.
Isran-Hadi mendapat dukungan dari PDI-Perjuangan dan Partai Demokrat, dengan 11 kursi. Koalisi minim ini mendapat suport lainnya dari partai non-parlemen. Yakni Partai Gelora, Hanura, Partai Ummat dan Perindo.
Sementara Rudy-Seno, membentuk duet yang disokong oleh Koalisi Indonesia Maju (KIM). Koalisi gendut ini meraup 44 kursi di parlemen, termasuk Partai Golkar, Partai Gerindra, PAN, PKS, PKB, NasDem, dan PPP. Rudy-Seno juga mengamankan dukungan partai non-parlemen seperti PSI, PBB, Partai Buruh, PKN, hingga Partai Prima.
Kedua kandidat tersebut dipastikan bakal caper merebut suara pemilih muda di Kaltim, yang jumlahnya mencapai 60 persen dari total pemilih.
Suara Anak Muda Jadi Kunci Penentu di Pilgub Kaltim 2024
Kelompok pemilih muda ini bukan sekadar angka. Mereka adalah generasi yang sedang menapaki karier dan masa depan di tengah perubahan besar Kaltim, khususnya dengan kehadiran IKN.
Menurut KPU, pemilih muda adalah kelompok usia 17 hingga 40 tahun, yang merupakan gabungan antara generasi Z (kelahiran 1997-2012) dan generasi milenial (1981-1996).
Berdasarkan data daftar pemilih sementara (DPS) Pilgub Kaltim 2024, yang diplenokan pada 16 Agustus lalu, menunjukkan bahwa kelompok milenial dan generasi Z menjadi blok terbesar pemilih. Kelompok milenial di DPS tercatat sebanyak 1.017.123 pemilih atau 36,05 persen dari total DPS yang mencapai 2.821.413 jiwa. Sementara gen Z mencakup 747.228 orang atau 26,48 persen.

Tren dominasi kelompok pemilih muda juga tergambarkan pada komposisi daftar pemilih tetap (DPT) Pemilu 2024 di Kaltim. Kelompok milenial berjumlah 1.028.387 orang atau 37 persen dari total DPT, yakni 2.778.644 orang. Di sisi lain, generasi Z menyumbang 670.186 orang, atau sekitar 24,1 persen.
Komisioner KPU Kaltim Divisi Perencanaan, Data, dan Informasi, Iffa Rosita mengatakan, DPT Pilkada Sertentak tahun ini, dijadwalkan rampung pada 21 September 2024. Ia memproyeksikan, hasilnya tidak akan berbeda jauh dari DPT Pemilu dan DPS Pilgub Kaltim 2024. Perubahan yang terjadi relatif kecil.
“Perbedaannya tidak signifikan, tapi suara anak muda ini menentukan,” ujar Iffa, saat menjelaskan dinamika pengumpulan DPT yang dimulai dari tingkat kabupaten dan kota di Kaltim kepada media ini, Rabu, 4 September 2024.

Generasi Adaptif dan Inovatif
Lantas, siapa sebenarnya pemilih muda, yang digadang-gadang bakal berpengaruh besar terhadap perolehan suara di Pilgub Kaltim 2024? Menurut buku saku yang disusun Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) berjudul ‘Partisipasi Aktif Pemuda di Pilkada’ pemilih pemuda digambarkan punya beberapa karakteristik. Di antaranya generasi yang cepat belajar, adaptif, dan mudah memahami perkembangan tren serta kondisi yang begitu cepat berubah.
Dalam kehidupan berpolitik, pemuda dikenal memiliki komitmen tinggi terhadap demokrasi. Bukan hanya karena usia mereka yang produktif dan kekuatan fisik yang mereka miliki, tetapi juga akses informasi yang luas. Seperti Diah dan Fifi, pemilih muda cenderung menjadikan internet dan media sosial sebagai sumber pengetahuan. Membuat mereka tak hanya sekadar memilih, tapi juga berpotensi berperan aktif dalam setiap tahap pemilu.
Calon Pemimpin Ideal Pemuda
Menukil hasil survei opini publik yang diterbitkan Departemen Politik dan Perubahan Sosial dari Center For Strategic And International Studies (CSIS), pada aspek politik strategis, isu ekonomi dan korupsi menjadi tajuk yang menarik minat sebagian besar pemilih muda. Mulai dari kesejahteraan masyarakat dan akses lapangan kerja. Kendati demikian, terdapat perubahan cara pandang pemilih muda dalam melihat pemimpin yang ideal. Pada pemilu 2019, karakter merakyat dan sederhana adalah dua faktor yang dianggap paling penting dalam diri pemimpin. Terjadi pergeseran berarti, di mana karakter jujur dan anti-korupsi lebih diapresiasi pemuda ketimbang citra sederhana dan merakyat.
Pemilih Muda Cari Pemimpin Jujur dan Berani Selesaikan Masalah Sosial
Sosiolog sekaligus pengajar Program Studi Pembanguunan Sosial Universitas Mulawarman, Sri Murlianti mengamini bahwa generasi muda lebih fokus pada isu-isu sosial seperti lapangan pekerjaan, gaya hidup, dan masa depan yang lebih baik. Sehingga hal tersebut faktor penentu dalam keputusan politik mereka.
“Anak muda sekarang sudah tidak lagi tertarik dengan citra pemimpin yang merakyat dan sederhana. Mereka sudah jenuh dengan dramaturgi politik yang kerap dijual, namun tidak terbukti saat pemerintahan berjalan,” kata Sri, saat diwawancarai via telepon, Selasa, 3 September 2024.
Sri melanjutkan, gejolak politik yang terjadi pada kepemimpinan Presiden Joko Widodo dalam dua periode terakhir telah mengubah cara pandang pemilih muda terhadap figur pemimpin. Menurut Sri, hal ini juga berlaku pada level pilkada. Generasi muda sekarang menginginkan sosok yang jujur, anti-korupsi, dan memiliki rekam jejak yang jelas dalam memajukan kesejahteraan masyarakat.
Meski suara pemuda begitu besar, masih banyak pemilih yang belum sepenuhnya melek politik. Sri menyoroti fenomena ini dengan menyebut kesadaran akan pentingnya demokrasi dan kebebasan sipil di kalangan pemuda masih rendah.
“Saya berharap pemuda lebih fokus pada demokrasi dan kebebasan sipil, tetapi tampaknya aspirasi mereka masih berada pada isu-isu kesejahteraan. Ini tantangan besar bagi kepala daerah kelak,” ungkapnya.
Lingkungan keluarga, media sosial, dan komunitas sosial memainkan peran signifikan dalam membentuk preferensi politik pemilih muda. Sri mengamati, media sosial, dengan segala dinamika informasinya, menjadi salah satu saluran utama yang memengaruhi cara anak muda memilih.
“Kekecewaan politik terakhir, terutama dalam hal sulitnya mencari pekerjaan dan maraknya PHK, membuat mereka sadar bahwa memilih pemimpin tak bisa lagi dianggap enteng.”
Kaltim, dengan segala kompleksitas masalah ekstraktif seperti konflik lahan dan ketimpangan kesejahteraan, membutuhkan pemimpin yang berempati pada masyarakat. Pemilih muda menginginkan figur yang tak hanya mengumbar janji, tetapi juga mampu menyelesaikan masalah-masalah konkret di lapangan. Dalam hal ini, rekam jejak kandidat menjadi hal yang sangat penting.
“Pemimpin yang mampu berpihak pada masyarakat dan berani menyelesaikan konflik-konflik ini adalah harapan pemilih muda di Kaltim,” pungkas Sri. (Tim Redaksi Prolog)


