Masjid Muhammad Cheng Ho memadukan arsitektur Tiongkok dan Islam, mencerminkan keberagaman dan persaudaraan lintas budaya. (Dok Prolog.co.id).

Wajah Akulturasi Budaya di Masjid Muhammad Cheng Ho

Masjid Muhammad Cheng Ho bukan sekedar tempat ibadah. Bangunan bercorak oriental dengan nuansa Islam itu adalah wujud harmonisasi antar umat beragama dan budaya.

Jos Soetomo mempercayai Islam sebagai agama rahmatan lil alamin, yang membawa kasih bagi seluruh alam. Atas keyakinan ini, pengusaha berdarah Tionghoa itu terpacu untuk membangun Masjid Muhammad Cheng Ho di Benua Etam—julukan Provinsi Kalimantan Timur.

Masjid Muhammad Cheng Ho bukan sekedar tempat ibadah yang berfungsi sebagai sarana spiritual. Arsitektur yang menggabungkan unsur Tiongkok dan nuansa Islam, menjadi simbol keberagaman dan persaudaraan lintas budaya.

Berdiri megah di Jalan Ruhui Rahayu I, Samarinda, konstruksi masjid ini berbeda dari masjid kebanyakan. Kubah dan menaranya menyerupai pagoda, dihiasi warna merah, hijau, dan kuning—warna-warna yang dalam tradisi Tionghoa melambangkan kebahagiaan, harapan, dan kemakmuran.

Pintu gerbangnya berhiaskan ukiran khas Tiongkok. Sementara kaligrafi Arab menghiasi berbagai sudutnya. Akulturasi budaya ini tidak sekadar estetika. Menandakan Islam berkembang di berbagai latar budaya tanpa kehilangan esensi.

“Pak Yos (panggilan karib Jos Soetomo) ingin memberikan kesan bahwa Islam itu ramah. Dan kedua, masyarakat Tionghoa itu sama dengan yang lain,” terang Ibnu Chotob, selaku Staf Biro Umum Yayasan Sumber Mas, yang menceritakan sejarah pembangunan Masjid Muhammad Cheng Ho kepada Prolog.co.id, Selasa, 18 Maret 2025.

Masjid Cheng Ho berdiri di lahan Yayasan Sumber Mas milik Jos Soetomo. Di sebelahnya, ada SMP dan SMA Fastabiqul Khairat, yang juga dikelolanya. Sayang, prlogo.co.id tak bisa mewawancarai saudagar ternama di sektor perkayuan dan perhotelan itu, karena kondisi kesehatannya.

Masjid Cheng Ho tersebar di sejumlah provinsi di Indonesia. Masjid yang di Surabaya adalah yang pertama berdiri di Tanah Air. Dibangun oleh pengurus Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PIT).

Sementara di Kalimantan Timur, ada empat tempat ibadah umat islam yang memakai nama Cheng Ho. Dua di Samarinda, satu di Batuah, Kutai Kartanegara, dan satu lagi di Lamaru, Balikpapan. Semuanya digagas Jos Soetomo.

“Beliau terinspirasi dengan misi Laksamana Cheng Ho yang mengadakan pelayaran ke Asia Timur, Asia Selatan, hingga Asia Tenggara,” kata Ibnu.

masjid cheng ho
Masjid Muhammad Cheng Ho di Samarinda. (Dok Prolog.co.id)

Terinspirasi Laksamana Cheng Ho

Pendirian Masjid Cheng Ho berakar pada perjalanan Laksamana Cheng Ho. Seorang penjelajah asal Negeri Tirai Bambu. Cheng Ho merupakan keturunan suku Hui, yang mayoritas beragama Islam.

Di era Dinasti Ming, antara 1405 hingga 1433, Cheng Ho mengemban misi diplomatik. Ia menjalin hubungan dagang dan budaya dengan berbagai kerajaan di Asia, termasuk Nusantara. Dalam setiap pelayarannya, Cheng Ho membawa pesan damai, yang kemudian menjadi cikal bakal interaksi Islam-Tionghoa di Indonesia (Kisah Para Penakluk dan Penjelajah Dunia, 2011).

Nama Cheng Ho pada masjid ini mencerminkan semangat keterbukaan dan persaudaraan lintas budaya yang ingin diwujudkan di Kalimantan Timur. Di sisi lain, penggunaan nama Cheng Ho juga bertujuan menghilangkan pemisah antara etnis Tionghoa dan komunitas muslim lokal.

“Yang ikut dalam rombongan kapal itu tidak semua Islam. Jadi itu ada yang agama lain. Tapi awak kapalnya diisi ahli pertanian, ahli teknik, segala macam dibawa. Tujuannya membantu negara yang dikunjunginya,” kata Ibnu, menerangkan bagian perjalanan Cheng Hoo yang memotivasi Jos Soetomo.

Masjid Muhammad Cheng Ho yang ada di Jalan Ruhui Rahayu, mulai beroperasi pada 2018. Sebagai tempat ibadah, masjid ini telah bertransformasi sebagai pusat aktivitas sosial dan pendidikan.

Setiap Ramadan, masjid ini menyelenggarakan buka puasa bersama yang melibatkan masyarakat sekitar. Menciptakan ruang interaksi yang erat antarwarga.

Di sektor pendidikan, Masjid Cheng Ho mengelola Taman Pendidikan Alquran (TPA). Program ini tidak hanya mengajarkan anak-anak membaca Alquran, tetapi juga membekali mereka dengan keterampilan sosial serta pemahaman akan pentingnya sikap toleran terhadap sesama.

Hanya saja, belum ada program serupa dengan Masjid Cheng Ho di Surabaya yang telah aktif dalam program inklusif seperti dialog lintas agama. Upaya itu di Samarinda masih terbatas. Hal ini menjadi tantangan tersendiri dalam mengoptimalkan peran Masjid Muhammad Cheng Ho sebagai ruang inklusif.

“Di Surabaya, etnis Tionghoa lebih banyak. Baik muslim maupun non muslim. Jadi semangat gotong royongnya cepat,” tandas Ibnu.

Tantangan dan Realita Toleransi di Kalimantan Timur

Keharmonisan sosial telah terbangun di Kalimantan Timur. Kendati demikian, dalam mewujudkan toleransi beragama bukan berarti tanpa hambatan.

Berdasarkan Indeks Kerukunan Umat Beragama (KUB) 2024, yang dirilis Lembaga Kajian Kurikulum dan Kebijakan (LK3P) Universitas Indonesia, Kalimantan Timur meraih skor 78,19. Menempatkannya di klaster 3 dalam survei tersebut, bersama Jambi, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Tengah, Papua, dan lainnya.

Masih dari survei itu, Dimensi Toleransi Kalimantan Timur tercatat di angka 77,84. Menunjukkan masih adanya pengalaman diskriminasi berbasis agama serta pengaruh politisasi agama dalam relasi sosial.

Meskipun skor ini masuk dalam kategori sedang, ada peluang daerah ini melebarkan perbaikan. Utamanya dalam meningkatkan interaksi antar umat beragama dengan tujuan keserasian.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Timur, Abdul Khaliq mengakui keberadaan Masjid Cheng Ho melambangkan keterbukaan. Diperlukan kerja ekstra untuk menjadikan masjid itu sebagai pusat inklusivitas yang lebih kuat.

“(Masjid Muhammad Cheng Hoo) memang tempat bagus dalam mewadahi itu. Karena memang Kalimantan Timur terkenal dengan kerukunan umat beragama,” kata Abdul Khaliq, Senin, 17 Maret 2025, lewat saluran telepon.

Dalam mewujudkan hal tersebut semua elemen masyarakat butuh memperbanyak inisiatif dialog dan program-program yang memperkuat kerukunan antaragama. Tantangan lainnya, masih adanya prasangka terhadap komunitas tertentu, yang dapat menghambat upaya membangun ruang dialog terbuka.

“Ada tantangan memang dalam mewujudkan toleransi beragama di Kaltim. Riak-riak itu kita selesaikan dengan baik. Intinya persuasif dan damai,” terangnya.

Masjid Cheng Ho
Masjid Cheng Ho mengelola TPA yang mengajarkan baca Alquran, keterampilan sosial, dan sikap toleransi. (Dok Prolog.co.id)

Membentangkan Ruang Dialog Antar Agama

Modal besar Masjid Muhammad Cheng Ho dalam membentangkan ruang inklusif turut menjadi perhatian akademisi Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda, Hudriansyah. Untuk mewujudkan hal tersebut, dibutuhkan langkah-langkah strategis.

“Saya kira sangat besar potensinya kalau mau dilakukan. Mulai dari keunikan arsitekturnya hingga latar belakang siapa yang membangunnya, adalah modal yang cukup,” kata Hudriansyah, Senin, 17 Maret 2024

Hudriansyah memberi contoh. Masjid Cheng Ho, sambung dia, dapat mengadopsi China Space di Masjid Istiqlal. Dalam lokakarya hasil kolaborasi dengan pemerintah Tiongkok itu, pengurus masjid menyediakan informasi tentang pemahaman lintas budaya. Terlebih, pengetahuan tentang Islam di negara yang dipimpin Xi Jinping itu.

“China Space dimanfaatkan untuk memperkenalkan budaya-budaya Tiongkok, termasuk belajar bahasa Mandarin dan pengetahuan budaya,” terang pengajar di Program Studi Ilmu Al-Quran dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah (FUAD) itu.

Hudriansyah, yang tercatat sebagai lulusan Al-Azhar University, Kairo, Mesir itu memandang, Masjid Cheng Ho bisa jadi pusat edukasi masyarakat luas untuk memahami bagaimana Islam berkembang dalam komunitas Tionghoa. Sekaligus memperkuat hubungan antara berbagai kelompok etnis.

“Masjid Cheng Ho bisa membuka space (ruang) serupa. Khusus untuk perjumpaan dengan kelompok agama lain,” ucapnya.

Upaya lain, lanjut Hudriansyah, pengurus masjid dapat membuka forum dialog lintas agama. Hal ini menurutnya dapat membangun pemahaman dan toleransi yang lebih dalam.

Forum tersebut dapat melibatkan tokoh-tokoh agama di Kalimantan Timur. Diskusi bakal lebih hidup, kerana masing-masing pemuka agama berbagi pengalaman. Sehingga masyarakat lebih terbuka terhadap perbedaan. Serta lebih memahami esensi hidup berdampingan secara damai.

“Tinggal diinisiasi oleh komunitas lintas agama, seperti FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama),” imbuhnya.

Hambatan dalam menciptakan kerukunan antar umat beragama di Kaltim dapat diatasi dengan memahami aspek tersebut. Menurut Hudriansyah, masyarakat akan belajar bagaimana menghargai sesama manusia, tanpa memandang perbedaan.

“Tantangan terbesar itu adalah mengikis prasangka-prasangka supaya kita lebih terbuka dengan agama lain. Bahwa berteman dengan yang berbeda tidak mesti harus menjadi sama. Itu justru membuka peluang memiliki jaringan yang lebih besar,” jelasnya.

Harapan Komunitas Muslim Tionghoa

Bagi komunitas Muslim Tionghoa di Samarinda, Masjid Muhammad Cheng Ho punya potensi besar sebagai ruang inklusif. Putri Permata Tanzil, berharap masjid tersebut semakin terbuka untuk semua orang.

“Saya sangat berharap mesjid itu bisa menjadi ruang inklusif agar bisa mengakomodasi semua orang tanpa memandang latar belakang,” ucapnya.

Menurut Putri, Masjid Muhammad Cheng Ho bukan jadi sekat pemisah. Melainkan zona baru dalam kehidupan sosial masyarakat.

“Semoga masjid ini bisa membuka lebih luas lagi komunitas muslim di samarinda dari etnis mana pun. Memiliki rasa toleransi yang tinggi,” tutupnya, mengakhiri wawacara. (Redaksi Prolog)

Editor:

Redaksi Prolog

Bagikan:

Berita Terbaru
prolog

Copyright © 2024 Prolog.co.id, All Rights Reserved