Search
Close this search box.
Search
Close this search box.

BMKG Prediksi Puncak Kemarau di Kaltim Lebih Kering dari Tahun Sebelumnya

Terbit: 4 Agustus 2023

Kemarau di Kaltim
Ilustrasi musim kemarau. (pixabay.com/adage)

Prolog.co.id, Samarinda – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi bahwa puncak musim kemarau di Kalimantan Timur (Kaltim) pada tahun ini akan lebih kering dibandingkan tahun sebelumnya.

Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan BMKG Balikpapan, Kukuh Ribudiyanto, menjelaskan bahwa kondisi cuaca di Kaltim selama 3 tahun terakhir cenderung basah. Namun, pada tahun ini, BMKG memperkirakan puncak musim kemarau akan terjadi mulai dari bulan Agustus hingga bulan Oktober mendatang.

Prediksi ini mengundang keprihatinan karena kemarau yang lebih ekstrem berpotensi menyebabkan sejumlah masalah serius di wilayah tersebut. Salah satunya adalah meningkatnya risiko Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang dapat mengancam ekosistem dan kehidupan masyarakat.

“Dengan kondisi cuaca kemarau tersebut dapat berdampak pada Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), kemudian ketersediaan air bersih yang sedikit, serta potensi gagal panen pertanian dan perkebunan,” sebut Kukuh.

Kukuh menambahkan bahwa BMKG dan instansi terkait terus memantau pergerakan titik api (Hotspot) di seluruh wilayah Kaltim. Informasi tentang titik api disajikan secara real-time setiap jam untuk meningkatkan respons dan deteksi dini terhadap potensi kebakaran.

Kemarau di Kaltim

“Kita selalu memantau, begitu ada prodak titik panas langsung kita share baik mulai dari jam 07.00 sampai sore, jadi tidak dalam bentuk rekapan 24 jam,” terangnya.

Dalam upaya mengatasi potensi Karhutla, BMKG telah mengkategorikan titik api dalam tiga kategori, yaitu rendah, sedang, dan tinggi tingkat kepercayaan. Hal ini membantu dalam identifikasi penyebab dan dampak dari setiap titik api.

“Untuk kategori rendah dan sedang itu bisa saja karena disebabkan oleh pasir atau atap seng yang terpapar sinar matahari maka menimbulkan hawa panas, tetapi jika tinggi itu bisa dipastikan penyebabnya karena api,” terangnya.

Terpisah, Koordinator Pusdalops BPBD Provinsi Kaltim, Cahyo Kristanto, mengungkapkan, bahwa pihaknya telah melakukan imbauan dan sosialisasi kepada masyarakat untuk menghindari aktivitas yang dapat menyebabkan kebakaran, seperti pembakaran lahan. BPBD kabupaten dan kota bersama Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) turut memberikan saran kepada masyarakat untuk mengurangi risiko Karhutla.

Tidak hanya faktor manusia, kebakaran lahan di Kaltim juga dapat disebabkan oleh faktor alam, seperti pergeseran tanah dan gesekan batu bara yang menyulut kebakaran bawah. Kondisi ini membutuhkan pengawasan dan penanganan yang lebih teliti, mengingat kebakaran bawah baru bisa teridentifikasi setelah munculnya asap di dalam tanah akibat kurangnya kandungan air.

Menyikapi ancaman kemarau ekstrem dan potensi Karhutla di Kaltim, Pusdalops PB BPBD Provinsi Kaltim telah melakukan persiapan dengan menyiapkan personel dan alat pemadam kebakaran dari lingkup BPBD Kaltim dan kabupaten/kota. Dinas Kehutanan juga turut membantu dengan menyediakan peralatan pemadaman yang diperlukan.

Lebih lanjut, Kaltim juga telah menyiagakan helikopter dan pesawat jenis bomber di Bandara APT Pranoto Samarinda, yang dikelola oleh relawan khusus. Pesawat tersebut siap melakukan aktivitas pemadaman secara cepat dan efektif jika terjadi kebakaran, bahkan dapat membantu memadamkan kebakaran di wilayah lain, termasuk di Kalimantan Selatan.

Terkait hal ini, masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan berpartisipasi aktif dalam pencegahan Karhutla. Sinergi dan koordinasi antara pihak berwenang, instansi terkait, dan masyarakat diharapkan dapat mengurangi risiko Karhutla serta menjaga keamanan dan kelestarian lingkungan di Kaltim.

“BPBD kabupaten kota dan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) juga menyarankan masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas pembakaran, salah satunya yang sering terjadi adalah pembakaran membuka lahan,” sebutnya.

(Redaksi Prolog)

Ikuti berita prolog.co.id lainnya di Google News

Editor:

Redaksi Prolog

Bagikan:

Berita Terbaru
prolog

Copyright © 2024 Prolog.co.id, All Rights Reserved