Search
Close this search box.
Search
Close this search box.

Duduk Perkara Pembantaian Satu Keluarga di Penajam

Berawal dari menyimpan dendam, pemuda berinisial JND tega menghabisi nyawa satu keluarga. Tak hanya menghabisi lima korbannya yang merupakan tetangganya sendiri, JND juga memberikan laporan palsu hingga menyetubuhi mayat korbannya.

Terbit: 6 Februari 2024

Pembantaian Satu Keluarga di Penajam
Kapolres PPU, AKBP Supriyanto saat memimpin rilis kasus pembantaian satu keluarga di Desa Babulu Laut. (Ist)

Prolog.co.id, Penajam Paser Utara Pembantaian satu keluarga di Penajam Paser Utara (PPU), rupanya didasari dendam. Pembunuhan itu terjadi di Jalan Sekunder 8, RT 18 Desa Babulu Laut, Kecamatan Babulu, pada Selasa (6/2) pukul 01.45 Wita.

Kasus yang membuat geger masyarakat itu dengan cepat berhasil diungkap pihak Polres PPU. Hanya dalam waktu dua jam pasca kejadian, petugas berhasil mengamankan pelaku yang diketahui berinisial JND (17) yang sejatinya bertetangga dengan korban.

Dihadapan awak media, Kapolres PPU, AKBP Supriyanto menjelaskan kalau korban terdiri dari lima orang. Yakni WL (35) suami, SW (34) istri, RJS (15), VDS (11) dan JAA (3).

“Dari hasil pemeriksaan sementara, motifnya sejauh ini karena pelaku menyimpan rasa dendam kepada korban,” ucap AKBP Supriyanto saat menggelar pers rilis, pukul 16.00 Wita tadi.

Dirincikan polisi berpangkat melati dua emas itu, dendam pelaku bermula saat JND dan RJS sempat memiliki hubungan. Namun belakangan hubungan itu ditolak pihak RJS dan diketahui sang pujaan hati telah memilik kekasih lain.

“Perkara asmara masih kita dalami. Tapi antara korban yang anak pertama (RJS) dan pelaku sempat berhubungan, namun ditolak pihak korban karena korban ini juga sudah punya pasangan lain,” ungkapnya.

Sakit hati dengan penolakan dan fakta kalau RJS memiliki kekasih lain, JND mulai memupuk rasa dendam. Tak hanya itu, kekesalan JND bertambah saat pihak korban meminjam helm namun tak kunjung dikembalikan hingga tiga hari lamanya.

“Kemudian puncaknya pada malam tadi sekitar pukul 11.30 Wita. Pelaku dengan seorang temannya sedang minum-minuman keras (miras). Jaraknya sekitar 500 meter dari rumah korban,” tambahnya.

Saat dalam pengaruh miras, JND dengan temannya lantas memutuskan untuk bubar. Dia pun pulang ke rumahnya. Namun kapolres tak merinci jelas apa yang membuat JND memuncak, hingga akhirnya pulang dan mengambil parang untuk membantai keluarga korban.

“Usai pelaku minum-minuman keras dia pulang kerumah. Dari situ mulai muncul niat untuk menghabisi korban (dengan mengambil parang sepanjang 60 sentimeter di rumahnya),” terangnya.

Memberikan Laporan Palsu

Usai melakukan pembantaian, JND kemudian mengambil ponsel korban dan dengan cepat dibuangnya ke aliran sungai sekitar. Tak hanya itu, sejumlah uang tunai dengan nilai lebih dari Rp300 ribu raib dicuri JND.

Selanjutnya, JND dengan polos memberitahu sang kakak kalau dia baru menemukan kelima jenazah korban yang sudah terbantai. Keduanya lantas berinisiatif melaporkan temuan JND kepada RT sekitar. Dari laporan RT setempat inilah petugas kepolisian mulai mengendus kejahatan JND.

“Setelah melakukan pembunuhan, pelaku mengajak kakaknya untuk laporan ke RT (melaporkan adanya pembunuhan). Dengan alibi bukan dia (JND) pelakunya,” urai AKBP Supriyanto.

Dengan dalih sebagai saksi yang menemukan, JND lantas berbohong kalau pelaku pembantaian adalah tiga orang pria tak dikenal yang sudah berhasil melarikan diri.

“Berdasarkan pemeriksaan kami saat itu, keterangan ini (yang diberikan JND) tidak masuk akal. Sehingga yang bersangkutan kita bawa ke polres untuk diinterogasi lebih lanjut. Ketika kita konfrontir ternyata diakui dia pelakunya,” ungkapnya.

Setelah mengakui perbuatannya, JND mengaku kalau aksi sadisnya itu nekat dilakukan karena dendam terhadap korban bernama RJS. Dendam JND dilatarbelakangi persoalan asmara. Sebab beberapa waktu sebelumnya, JND dan RJS sempat terlibat hubungan asmara.

Selain persoalan asmara, dendam JND diduga semakin memuncak saat pihak korban meminjam helm namun tak kunjung dikembalikan.

Dihabisi Satu per Satu

Dengan bermodal parang tanpa gagang sepanjang 60 sentimeter, JND perlahan mendekati kediaman korban. Saat itu, korban pertama yakni W sebagai kepala rumah tangga diketahui belum pulang ke rumahnya.

Dengan langkah mengendap, JND yang berhasil masuk ke rumah korban dengan cepat mematikan lampu di ruang tengah.

“Sebelum melakukan aksinya, orang tua (korban W) tiba-tiba pulang dan pelaku yang (sudah menunggu) langsung menghabisi korban di dekat pintu,” jelas AKBP Supriyanto.

Mendengar kegaduhan diruang tengah, istri korban yakni SW kemudian terbangun. Dengan cepat JND kembali mengeksekusi SW. Setelah menghabisi pasangan suami istri tersebut, ketiga anak korban yakni RJS, VDS dan JAA selanjutnya menjadi sasaran selanjutnya.

Satu per satu korban mulai dihabisi JND. Dengan cara menimpas kepala korban hingga kesemuanya tewas berlumuran darah dikediaman mereka.

“Setelah si istri bangun langsung dihabisi, kemudian anak kedua (VDS), anak pertama (RJS) dan anak terakhir (JAA) dihabisi pelaku,” imbuhnya.

Mayat Ibu dan Anak Disetubuhi

Kesadisan JND rupanya tak cukup setelah membantai ke lima korban. Sebab, JND dengan tega mengaku telah menyetubuhi mayat SW dan RJS. Pengakuan ini tentu sangat mencengangkan. Dengan usia yang masih remaja, JND dengan tega membantai dan menyetubuhi mayat korbannya.

 “Dari keterangan pelaku, setelah pembunuhan pelaku menyetubuhi mayat ibu (SW) dan anak yang paling dewasa (RJS). Tapi untuk kepastiannya kita tunggu hasil visum dari rumah sakit,” kata AKBP Supriyanto.

Sementara tiga korban lainnya, yakni W (35) suami atau ayah, VDS (11) anak laki-laki kedua dan JAA (3) anak perempuan terakhir dibiarkan tergeletak bersimbah darah. 

Perilaku sadis JND kepada korbannya tentu dinilai tak wajar. Oleh sebab itu pihak kepolisian saat ini sedang menjadwalkan pemeriksaan terhadap kejiwaan JND.

“Hingga saat ini belum ada catatan terkait indikasi kejiwaan. Namun ke depan pasti kita lakukan pemeriksaan jiwa,” tegasnya.

Kendati telah melakukan aksi yang begitu sadis, namun diawal keterangannya saat menyebut sebagai saksi pertama yang menemukan korban. JND sama sekali tak menunjukan ekspresi bersalah.

“Saat melakukan interogasi awalnya tidak terlihat rasa bersalah, tapi setelah itu (pengakuan) baru ada raut penyesalan,” terangnya.

Dijerat Pasal Berlapis

Pelaku pembantaian satu keluarga di Penajam ini diancam dengan jeratan pasal berlapis. Hal itu disanksikan polisi karena rentetan peristiwa sadis yang dilakukan JND kepada satu keluarga di Desa Babulu Laut, Kabupaten Penajam Paser Utara.

“Kita kenakan Pasal 340 subsider Pasal 338 juncto,” tegas AKBP Supriyanto.

Jeratan dua pasal kepada pelaku pembantaian satu keluarga di Penajam masih bersifat sementara. Sebab polisi masih terus melakukan penyelidikan dan penyidikan lebih lanjut mengenai kasus tersebut.

“Sementara masih terus kita kembangkan lagi, termasuk mendalami peran si kakak yang diajak melaporkan peristiwa pertama,” tambahnya.

Selain jeratan pasal berlapis, mengingat status JND yang masih pelajar dan anak di bawah umur. Pihak kepolisian juga menerapkan Pasal 76 ayat C tentang undang-undang perlindungan anak.

“Karena mengingat pelaku juga masih di bawah umur kita juga kenakan perlindungan anak dalam penanganan kasusnya,” lugasnya.

Diakhir, AKBP Supriyanto meminta agar masyarakat, khususnya keluarga korban bisa mempercayakan penuh proses hukum kepada polisi.

“Untuk sementara itu yang bisa kami sampaikan. Kami masih terus mendalami kasus ini dan meminta masyarakat menyerahkan sepenuhnya proses hukum kepada polisi, kami akan melakukan proses peradilan setransparan dan seadil mungkin,” pungkasnya. (Day)

Ikuti berita prolog.co.id lainnya di Google News

Editor:

Redaksi Prolog

Bagikan:

Berita Terbaru
prolog

Copyright © 2024 Prolog.co.id, All Rights Reserved