Ilustrasi (Freepik)

Jurus Jitu Melawan Stunting melalui Program DAHSAT

Berbagai makanan sehat dibagikan ke setiap anak yang mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan akibat kekurangan gizi kronis atau stunting. Dapur Sehat Sehat Atasi Stunting atau yang biasa disebut DAHSAT menjadi ujung tombak dalam menekan angka stunting di Kota Tepian.

Hiruk-pikuk di rumah yang beralamat di Jalan Karang Anyar, RT 19, Kelurahan Lok Bahu, Kecamatan Sungai Kunjang telah terdengar sejak pukul 08.30 Wita. Menyiapkan berbagai makanan sehat, mulai dari lauk-pauk dengan protein hewani, hingga sayur-mayur. Seluruh menu sehat dibuat oleh tujuh kader Dapur Sehat Sehat Atasi Stunting atau DAHSAT, termasuk Jumriah yang menjadi Ketua Ketua DAHSAT Lok Bahu, Jumariah.

Mejelang tengah hari, seluruh menu sehat yang diolah sedari pagi itu dimasukkan ke dalam kotak makanan. Termasuk buah-buahan yang menjadi pencuci mulut favorit anak-anak dari keluarga berisiko stunting di Kelurahan Lok Bahu.

“Anak-anak di sini (Lok Bahu) suka semangka,” kata Jumariah medio September lalu. “Kemarin pernah coba melon, apel, pisang, mereka enggak suka. Awalnya lihat buahnya dulu, baru mereka makan yang lain,” sambungnya.

Meski kegiatan Kader DAHSAT yang membawa makanan sehat ini dilakukan setiap hari, rupanya masyarakat penerima manfaat tak pernah jenuh menyambut. Bahkan kedatangan pejuang pengentas stunting Kota Tepian ini selalu dinantikan.

“Kami merasa tersentuh, yang dibantu ini ekonomi (kelas) bawah. Kondisi rumahnya memprihatinkan. Hadir di sini orang pilihan yang tergerak untuk melakukan kebaikan,” kata  Jumariah dengan semangat.

Selain Jumriah, Marni menjadi salah satu kader yang selalu menyambangi setiap penerima manfaat program DAHSAT. Perjalanannya biasa dimulai sekitar pukul 10.45 Wita, didampingi Okta, Penyuluh Keluarga Berencana (PKB) Sungai Kunjang.

Kediaman balita bernama Rasyid menjadi tujuan Marni diantara penerima manfaat lainnya. Rumahnya Jalan Karang Mulya 2, RT 21. Sekira 1,6 kilometer dari posko DAHSAT atau sekitar 10 menit perjalanan jika menggunakan kendaraan bermotor. Untuk tiba dikediaman anak dari pasangan Andi Nor dan Jumiati ini, Marni lebih dulu harus melintas di gang selebar dua kali bahu orang dewasa, sembari membawa rantang makanan sehat.

“Hore, ibu (Marni) datang,” kata Rasyid terbata-bata di beranda rumahnya saat melihat Marni mendekat rumahnya.

Wajah Rasyid sumringah ketika Marni menginjakkan kakinya di pelataran rumah. Matanya tertuju pada rantang yang dibawa Marni, penasaran akan menu sehat hari ini. Tangan menyusul rasa penasarannya dengan cepat, menuju kotak makan, berusaha membuka.

Buah semangka menjadi pilihan Rasyid setelah berhasil membuka tutup rantang dengan bantuan Marni. Bocah yang belum genap berusia tiga tuhun ini memang paling suka buah semangka, sesuai yang dikatakan para Kader DAHSAT, anak-anak penerima manfaat lebih doyang buah semangka.

Setelah menghabiskan sepotong buah semangka, baru lah Rasyid menyantap makanan lainnya. Dibantu suapan dari Marni. Sebab, tanganya sedang asik bermain mobil-mobilan kesayangannya.

“Rasyid ini termasuk anak yang pertumbuhannya cepat,” kata Marni sambil menyuapi Rasyid dengan telaten.

Sebelumnya, berat badan Rasyid hanya 8,6 kilogram dengan tinggi 74 centimeter. Sementara merujuk pada buku kesehatan dan anak (KIA), pertumbuhan Rasyid dikatakan belum optimal. Hasil pemeriksaan yang mengacu pada buku bersampul merah muda itu lah menjadi asal mula Rasyid masuk sebagai penerima manfaat.

Sejak program DAHSAT menyasar Rasyid, pertumbuhannya mulai meningkat. Pemeriksaan rutin terakhir di Posyandu Matahari, Jalan Karang Mulya 2, pada 10 September 2023 lalu, cukup memuaskan. Mencapai 9,8 kilogram dengan tinggi 81,5 centimeter.

“Di akhir bulan, anak-anak ini dipantau pertumbuhannya, jadi diukur berat badannya lagi. Tingginya diukur. Lingkar kepala diukur. Itu kami kerja sama dengan puskesmas, dengan petugas gizinya,” timpal Okta.

Stunting
grafis dapur dahsat atasi stunting

Program Pepedulian dalam Melawan Stunting

DAHSAT yang diluncurkan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) sejak 20 Oktober 2021 lalu menjadi program kepedulian akan penurunan angka stunting. Termasuk di Kota Tepian yang diprakarsai Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Samarinda sejak April 2022.

Program ini pun tak semata-mata bersumber dari anggaran pemerintah. Sumbernya bisa melalui bantuan pemangku kepentingan lainnya dalam bentuk coorporate social responsbility (CSR). Adapun program DAHSAT di Lok Bahu yang telah berjalan selama enam bulan terakhir, dibiayai Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kaltim. Organisasi milik pemerintah itu menggelontorkan dana sebesar Rp 1,08 miliar dalam membantu percepatan penurunan stunting di Benua Etam.

Dari sekian banyak faktor penyebab, kemiskinan ekstim menjadi utamanya. Faktor ini lah yang akhirnya menjadi dasar program DAHSAT menyediakan makanan gratis padat gizi. Menyasar keluarga dengan taraf perekonomian rendah, seperti di Lok Bahu yang menyasar 10 anak stunting. Termasuk keluarga Rasyid.

“Untuk pilihan menu, kami konsul ahli gizi di puskesmas. Setiap hari menunya beda. Paling andalan nugget ikan gabus,” terang Jumariah.

Sementara itu, Tenaga Penyuluh Gizi Puskesmas Lok Bahu, Suska Ari Setyawan menerangkan, dalam periode 6 bulan, anak balita di keluarga rentan mendapat makanan siap santap guna meningkatkan status gizi.

Kombinasi menu yang dimasak harus memberikan nutrisi baik bagi pertumbuhan anak. Meliputi sayur untuk kebutuhan zat besi. Buah-buahan untuk asupan vitamin, dan makanan yang mengandung protein hewani.

“Makanan yang dimasak berjenjang teksturnya. Nasinya juga enggak perlu kayak orang dewasa, bisa saja yang lembek. Karena kalau enggak, ada masalah lainnya akan timbul. Seperti giginya tumbuh lambat. Sistem pencernaannya juga bisa enggak normal,” terang Suska, yang juga ketua Persatuan Ahli Gizi (Persagi) Samarinda.

Pentingnya pola asuh orang tua

Mengacu data timbang Januari-Juli 2023, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Samarinda melalui elektronik-penguatan pencatatan pelaporan gizi berbasis masyarakat (e-PPGBM), ada 1.445 anak yang dikategorikan balita pendek dan sangat pendek. Masih dari periode yang sama, 25 balita di Lok Bahu juga masuk dalam ketegori stunting. Penyuluh Keluraga Berencana (PKB) Sungai Kunjang, Okta menjelaskan persoalan stunting di kawasan itu.

Permasalahan stunting rupanya bukan hanya terpatok pemenuhan makanan pada gizi yang sulit dipenuhi keluarga berpenghasilan rendah saja, namun juga dikarekan faktor pola asuh orang. Bahkan faktor ini juga mendominasi permasalahan stunting. Seperti pengalaman ibu-ibu yang pernah dikumpulkan Okta. Ada satu anak, yang makannya bagus, tetapi kecanduan teh. Menurutnya, hal itu menghambat pertumbuhan anak.

“Pakai gula atau tidak tetap mempengaruhi pertumbuhan anak. Berat badannya susah naik, karena teh mengikat zat besi pada makanan, jadi mengganggu proses penyerapan nutrisi. Ini (persoalan) pola asuh, bukan makanan,” tegas Okta.

Dari pengalaman itu lah, upaya pencegahan stunting tak hanya berfokus pada perbaikan asupan gizi anak, tetapi didukung edukasi tentang ketahanan pangan yang diberikan tim penyuluh kepada orang tua anak. Okta mengatakan, pada Oktober 2023, orang tua dari 4 anak yang menderita gizi buruk di Lok Bahu bakal mendapatkan pelatihan kemandiriaan pangan.

“Kami latih orang tuanya menanam sayuran di perkarangan. Plus bibitnya dikasih. Kemudian pelatihan budidaya ikan dalam ember. Karena bantuan berupa barang, kan terbatas. Agar mereka punya kemandirian,” tutupnya.

Ikuti berita prolog.co.id lainnya di Google News

Editor:

Redaksi Prolog

Bagikan:

Berita Terbaru
prolog

Copyright © 2024 Prolog.co.id, All Rights Reserved