Search
Close this search box.
Search
Close this search box.

,

Menanti Harapan: Tantangan Listrik dan Kemarau di Desa Tunjungan, Kutai Kartanegara

Terbit: 14 Desember 2023

Desa Tunjungan
Kondisi warga Desa Tunjungan, Kecamatan Muara Kaman yang hidup puluhan tahun tanpa listrik dan harus mengalami kesulitan ekonomi saat memasuki musim kemarau. (Ist)

Prolog.co.id, Kutai Kartanegara – Rencana pemerintah Kalimantan Timur untuk membangun infrastruktur dasar di seluruh masyarakat masih terasa sebagai janji dan wacana bagi ratusan warga di pelosok Kabupaten Kutai Kartanegara. Di Desa Tunjungan, Kecamatan Muara Kaman, kenyataannya, mereka harus bertahan puluhan tahun tanpa aliran listrik yang memadai.

Kondisi ini tidak hanya memprihatinkan, tetapi juga meruncing saat musim kemarau. Sebanyak 148 warga di dua dari delapan RT di Desa Tunjungan harus berhadapan dengan masalah ekonomi yang semakin parah, terutama karena akses terusan air yang menghubungkan desa tersebut dengan Desa Sabintulung menjadi dangkal. Akibatnya, kegiatan ekonomi warga, khususnya para nelayan, terhambat selama hampir 2 bulan.

Situasi ini semakin pelik karena janji pemasangan listrik dari proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) belum terealisasi, terutama di RT 03 dan RT 04 Desa Tunjungan.

Desa Tunjungan

“Kami meminta pemerintah segera memasang PLTS di RT kami, karena sulit bagi kami untuk beraktivitas tanpa listrik, terutama di malam hari,” keluh Yahya (48), warga RT 03.

Walaupun hanya berjarak satu jam dari pusat Kecamatan Muara Kaman, listrik tidak pernah dirasakan oleh warga Desa Tunjungan, khususnya di dua RT tersebut.

Kondisi pemukiman tanpa aliran ini juga berimbas pada kehidupan anak-anak. Membuat kesulitan belajar di malam.

“Anak-anak kami tidak pernah belajar malam hari karena tidak ada listrik. Kami, para ibu, juga tidak dapat melakukan pekerjaan rumah tangga karena tidak ada listrik sepanjang siang-malam,” timpal Rukayah (35), ibu rumah tangga.

Meskipun bukan seorang nelayan, Yahya, yang berprofesi sebagai pengumpul dan pengelola gudang pengolahan ikan asin di Desa Tunjungan, juga merasakan dampak musim kemarau.

Pengiriman ikan segar terhambat karena perahu tidak dapat melewati terusan yang menjadi akses vital bagi warga.

Terusan air sepanjang enam kilometer tersebut biasanya memungkinkan warga mencapai Desa Sabintulung dalam waktu 15 menit. Namun, jika terusan air tidak dapat dilewati, warga harus memutar melalui jalur sungai, memakan waktu hingga 1 jam dengan biaya bahan bakar yang lebih tinggi.

Warga nelayan dari desa-desa lain di hulu, seperti Desa Liang Buaya, Desa Mulupan, dan Desa Sedulang, juga mengalami dampak serupa. Keseluruhan rantai distribusi ikan, yang mengandalkan terusan tersebut, terganggu selama musim kemarau.

Halim (41), seorang nelayan lainnya, menjelaskan bahwa meskipun telah dilakukan pendalaman terusan, dampaknya masih belum terasa karena air yang dangkal. Ia menyatakan harapannya kepada pemerintah untuk menangani masalah ini, termasuk kelistrikan dan kedalaman terusan air.

“Baru satu bulan dikeruk, sudah dangkal lagi,” tambah Halim.

Desa  Tunjungan

Sekadar informasi, Desa Tunjungan dan desa-desa penghasil ikan air tawar di Kecamatan Muara Kaman memiliki peran penting dalam produksi ikan sungai di Kutai Kartanegara.

Muara Kaman sendiri menjadi salah satu penghasil utama ikan air tawar terbesar di wilayah ini, mencapai 200 ribu ton dan memasok 60 persen dari kebutuhan ikan di Kalimantan Timur. (Redaksi Prolog)

Ikuti berita prolog.co.id lainnya di Google News

Editor:

Redaksi Prolog

Bagikan:

Berita Terbaru
prolog

Copyright © 2024 Prolog.co.id, All Rights Reserved