Search
Close this search box.
Search
Close this search box.

,

Menyulap Limbah jadi Barang Mewah

Terbit: 15 September 2023

UMKM Kaltim
Ilustrasi produk UMKM di Kaltim.

Bermodalkan peralatan seadanya sekumpulan perempuan yang tergabung dalam Koperasi Kriya Inovasi Mandara (KIM), menyulap limbah sabut kelapa menjadi berbagai kerajinan. Mengubah limbah yang mulanya tak memiliki nilai jual menjadi kriya bernilai jual tinggi.

Prolog.co.id, Samarinda – Lahan seluas 10 meter persegi di Jalan Pariwisata, Nomor 45, Kelurahan Salolowang, Kecamatan Penajam, Kabupaten Penajam Paser Utara, menjadi rahim dari berbagai kerajinan Koperasi KIM.

Koperasi yang berdiri sejak 2020 lalu ini awalnya hanya memanfaat limbah dari pabrik pengolahan sabut kelapa. Menggunakan tumpukan coco fiber atau serat sabut kelapa hasil produksi perusahaan yang tak terpakai.

Limbah Sabut Kelapa
Rusni Febriyanti

“Memang awalnya saya kan dipercaya menjadi pengelola pabrik sabut kelapa yang saat ini sudah stop (tidak beroprasi), tapi setelah berjalan empat tahun saya kepikiran untuk mendirikan koperasi. Memanfaatkan stok produksi yang berlimpah dan nggak terpakai agar bisa dikelola masyarakat, jadi kerajinan, semacam home industry lah,” kata Rusni Febriyanti, Ketua Koperasi KIM, saat ditemui di Samarinda.

Meski masih minim pengalaman dalam membuat kerajinan, ditambah terbatasnya peralatan, tak membuat sekumpulan ibu-ibu ini patah arang. Tetap menggali informasi dan mengasah keterampilan agar tetap bisa berkarya.

“Awalnya yah belum ada keterampilan apa-apa tapi kami belajar sendiri membuat berbagai kriya. Bahkan untuk mengajak orang bergabung (koperasi) saja susah, apalagi promosi, karena memang belum bisa menghasilkan dan belum ada yang tertarik,” sebutnya

Meski keberadaan Koperasi KIM saat itu masih dipandang sebelah mata oleh sebagian orang, Rusni tak patah arang. Mencoba menggali potensi dari limbah sabut kelapa yang menggunung di sekitar tempat tinggalnya. Sembari, mengajak kaum hawa lainnya agar mampu berkarya.

Berselang tiga bulan, koperasi yang kini berada di bawah naungan Disperindagkop dan UKM Kaltim ini, akhirnya melahirkan karyanya. Pot bunga menjadi kerajinan awal yang lahir dari Koperasi KIM. Walaupun saat itu karya yang diciptakan belum mampu diperjualbelikan. Hanya dipajang dan ditelaah kembali menjadi bahan pembelajaran sebagai bekal penyempurnaan kerajinan selanjutnya.

“Selain pot bunga, saat itu kami juga coba mengolah agar bisa jadi pupuk organik. Coco fiber kami campur dengan sekam dan tepung ikan yang sudah tidak terpakai, semuanya limbah. Pupuk itu sudah sampai tes lab juga, dan hasilnya bagus,” ingat perempuan kelahiran Februari 1975 ini.

Walaupun seluruh karya yang dilahirkan Koperasi KIM saat itu belum dilirik oleh pasar, berbagai kriya berbahan sabut kelapa terus diciptakan. Mencoba membuka peluang dengan buah tangan lainnya. Hingga kini, lebih dari 50 jenis kerajinan telah diciptakan oleh perkumpulan yang mayoritas berisi kaum hawa ini.

Limbah Sabut Kelapa

“Sudah banyak kerajinan yang kami hasilkan, mulai pot, sendal, sepatu, gantungan kunci dan masih banyak lagi, semuanya dari coco fiber,” sebut Rusni sembari melihatkan berbagai foto kerajinan di gawai pintarnya.

Keuletan dari anggota Koperasi KIM akhirnya terbayar pada 2022 lalu. Jerih payah dalam mencipatakan karya berbaha baku sabut kelapa mulai dilirik masyarakat, Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait hingga perusahaan BUMN.

“Pada 2022 akhirnya mulai dilirik lah kami, ada (pesanan) dari pertamina. Bukan hanya mesan kriya dari kami, pada 2023 tepatnya dua bulan lalu kami dapat bantu alat juga, walaupun produksinya tidak besar. Kami juga beberapa kali juga diajak study banding,” terang Rusni bangga.

Untuk pemasarannya, sementara hanya melalui pre-order (PO). Sebab, masih terbatas pada jumlah produksi hingga tenaga kerja.

Kami belum bisa melayani orang beli per-satuan. Seperti baru-baru ini ada pesanan 50 pot, baru kami kerjakan, makanya setiap kami ikut pameran kami nggak sekaligus jualan, karena barangnya yang ada (di pameran) itu cuma contoh,” jelasnya.

Tak hanya menghasilkan kriya dari sabut kelapa, Koperasi KIM juga memproduksi cocopeat atau sebuk dari sabut kelapa yang biasanya digunakan sebagai media tanam di Perusahaan Hutan Tanam Industri (HTI). Dari produksi cocopeat ini, Koperasi KIM telah menjalin kerja sama dengan salah satu perusahaan yang ada di Kaltim. Menjadi penyuplai media tanam secara rutin.

Omzet yang dihasilkan pun terbilang besar. Bisa mencapai Rp 75 juta per bulan.

“Sejauh ini sudah ada dari HTI yang PO cocoped 70 ton untuk tiga bulan, jadi kami sedang mengejar produksi juga. Jadi sebulan produksi harus sampai 25 ton. Kalau omzet sih rata-rata saja, semisal sekilonya tiga ribu berarti satu ton tiga juta. Tapi itu kan omzet ya, belum dipotong biaya produksi dan lain-lain,” tutupnya. (Redaksi Prolog)

Ikuti berita prolog.co.id lainnya di Google News

Editor:

Redaksi Prolog

Bagikan:

Berita Terbaru
prolog

Copyright © 2024 Prolog.co.id, All Rights Reserved