Prolog.co.id – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengingatkan perbankan agar tidak mengurangi penyaluran kredit pada tahun 2024. Hal ini penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang saat ini sudah menunjukkan kinerja positif.
“Investasi dan kredit merupakan dua faktor yang berpengaruh besar terhadap pertumbuhan ekonomi. Kedua faktor ini tercatat tumbuh cukup baik pada tahun 2023, namun masih belum mencapai target yang diharapkan,” kata Sri Mulyani dalam Seminar Nasional Perekonomian Outlook Indonesia di Jakarta, Jumat (22/12/2023).
Menurut Sri Mulyani, penyaluran kredit yang optimal akan berdampak positif pada sisi investasi, baik dari dalam maupun luar negeri. Oleh karena itu, pemerintah akan terus melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan iklim investasi di Indonesia, seperti melalui hilirisasi dan reformasi sektor bisnis.
“Makanya, jangan sampai di 2024 ada sedikit ngerem untuk pertumbuhan kredit,” sambung Sri Mulyani.
Penyaluran kredit, lanjutnya, akan berdampak pada sisi investasi. Oleh sebab itu, urgensi untuk mempertahankan kinerja kredit terbilang cukup tinggi.
Meski begitu, Menkeu memastikan akan tetap melanjutkan berbagai upaya lainnya yang akan mendorong masuknya investasi asing (foreign direct investment/FDI), seperti melalui hilirisasi dan program reformasi pada sektor bisnis.
Menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan, kredit perbankan pada Oktober 2023 mencapai Rp6.902,98 triliun, naik 8,99 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Kredit bank badan usaha milik negara (BUMN) menjadi penyumbang terbesar dengan pertumbuhan 11,76 persen secara tahunan.
OJK juga melaporkan, kualitas kredit perbankan tetap terjaga dengan rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) bersih sebesar 0,77 persen dan NPL gross sebesar 2,42 persen. Kinerja perbankan juga solid dan resilien di tengah volatilitas pasar keuangan global, dengan tingkat return on assets (ROA) sebesar 2,73 persen dan tingkat kecukupan permodalan atau capital adequacy rasio (CAR) sebesar 27,48 persen.
Sementara itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) bank juga tumbuh 3,43 persen secara tahunan menjadi Rp8.198,8 triliun, dengan deposito sebagai penyumbang terbesar dengan pertumbuhan 5,56 persen year on year. Rasio alat likuid terhadap Non Core Deposit (AL/NCD) dan AL/DPK masing-masing naik menjadi 117,29 persen dan 26,36 persen, jauh di atas batas minimal 50 persen dan 10 persen.
Untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional, OJK juga terus mendorong perbankan untuk meningkatkan inklusi keuangan dengan menyalurkan kredit kepada Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dan masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah.
Heru mengatakan, OJK juga akan terus melakukan pengawasan terhadap kualitas kredit perbankan agar tetap terjaga.
“Kami akan terus berkoordinasi dengan perbankan untuk mendorong penyaluran kredit yang berkualitas dan berkelanjutan,” kata Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Heru Kristiyana.
(Redaksi Prolog)
Ikuti berita prolog.co.id lainnya di Google News


