TBC di Kaltim Capai 811 Kasus, Dinkes Pastikan Pengobatannya Terus Diawasi

Terbit: 29 Februari 2024

TBC di Kaltim
Kepala Dinkes Kaltim, dr Jaya Mualimin, SpKJ. (Dok Diskominfo Kaltim)

Prolog.co.id, Samarinda – Kasus Tuberkulosis (TBC) di Kalimantan Timur (Kaltim) pada Januari 2024 tercatat mencapai 811 kasus. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltim memastikan jika penanganan dan pemberian obat pada pengidap TBC selalu dilakukan secara rutin.

Kepala Dinkes Kaltim, dr Jaya Mualimin, SpKJ menyebutkan bahwa hingga saat ini pihaknya terus fokus untuk menangani TBC. Pihaknya pun secara rutin terus mendata kasus yang ada. Pun per Januari 2023 sampai Januari 2024, tercatat 21 ribu kasus TBC di Kaltim.

“Kalau kita hitung perbulannya rata-rata target penemuan kasus ada sekitar 1.800 kasus,” ungkap Jaya, Kamis (29/2).

Jaya mengatakan, setelah adanya laporan kasus TBC, maka pemberian obat menjadi hal wajib. Pasca pemberian obat, pihaknya pun akan mengevaluasi apakah pengidap TBC sembuh atau tidak.

“Setelah dilaporkan kita obati menggunakan obat TBC, kemudian kita evaluasi apakah selesai melaksanakan pengobatan dia sembuh,” sambungnya.

Ada 3 daerah yang disebut Dinkes Kaltim sebagai wilayah paling rawan terhadap kasus TBC. Kasus TBC terbanyak ditemukan di Samarinda, disusul oleh Balikpapan dan terakhir ada Kutai Timur (Kutim).

“Mengapa terjadi lonjakan di 3 daerah tersebut, karena populasi masyarakat yang cukup besar, dan juga paling sedikit adalah Mahakam Ulu (Mahulu),” ucap Jaya lagi.

Rincian 811 kasus TBC di Kaltim pada Januari 2024 itu meliputi Samarinda dengan 231 kasus, Balikpapan 210, Bontang 66, Kutim 89, Paser 52, Berau 41, Kutai Barat (Kubar) 27, Kutai Kartanegara (Kukar) 72, Penajam Paser Utara (PPU) 22, dan Mahulu 1.

Terkait 811 kasus yang ditemukan per Januari 2024, Jaya menyebut para pengidap tengah menjalani pengobatan. Dalam hal ini, pihaknya memastikan bakal terus memantau perkembangannya sampai akhir tahun.

“Kita terus melihat dari proses pengobatan berapa treatment sukses rate-nya,” tambahnya.

Berkaca pada tahun sebelumnya, Jaya mengatakan pengobatan TBC yang sukses hanya berada di angka 74 persen. Artinya, keberhasilan dari proses pengobatan penyakit ini hanya ada di 16 ribu penderita.

Oleh sebab itu, Jaya juga mengimbau kepada masyarakat untuk berhati-hati dan bisa menghindari penularan penyakit TBC ini. Apalagi, asalnya dari kuman yang hidup di lingkungan tak bagus, lembab, dan faktor kekebalan tubuh yang lemah.

Tak hanya itu, faktor pendukung lain yang bisa menyebabkan seseorang mengidap TBC juga karena kurang gizi. Mengingat, TBC bisa dengan cepat menyebar di wilayah yang jauh dari lingkungan bersih dan sehat.

“Maka dari itu kita terus menekankan dengan berkolaborasi dengan instansi terkait, seperti di tahun 2021 kita terus berupaya menekan kasus karena Indonesia adalah negara ke 2 pengidap terbanyak setelah India di dunia,” pungkasnya. (Gia)

Ikuti berita prolog.co.id lainnya di Google News

Ikuti berita Prolog.co.id lainnya di Google News

Editor:

Redaksi Prolog

Bagikan:

Berita Terbaru
prolog

Copyright © 2024 Prolog.co.id, All Rights Reserved