Prolog.co.id, Jakarta – Setelah 24 tahun menapaki kerasnya lapangan hijau, Maman Abdurahman akhirnya menutup babak panjang kariernya. Pada usia 43 tahun, mantan bek tangguh tim nasional (timnas) Indonesia itu resmi gantung sepatu, membawa serta rentang cerita yang tak sekadar soal trofi dan statistik, tapi juga tentang loyalitas dan konsistensi yang nyaris tak tergantikan.
Pengumuman pensiun itu disampaikan Rabu, 18 Juni 2025, menandai akhir dari kisah seorang pemain bertahan yang lebih sering dikenal karena determinasi dan ketenangannya di tengah tekanan.
“Yang paling berharga adalah kenangan dan pengalaman. Saya bangga menjadi bagian dari sepak bola Indonesia,” ujar Maman dalam pernyataan perpisahannya.
Maman Abdurahman Meniti dari Persijatim, Berlabuh di Hati Jakmania
Karier Maman dimulai dari Persijatim Solo FC pada 2001, sebelum menjelajah ke klub-klub besar Tanah Air. PSIS Semarang menjadi panggung awal ketenaran, di mana ia meraih gelar Pemain Terbaik Liga Indonesia 2006.
Ia kemudian memperkuat Persib Bandung, Sriwijaya FC, hingga akhirnya menjadi bek tangguh Persija Jakarta, klub yang bersamanya meraih juara Liga 1 2018, Piala Presiden 2018, dan Piala Menpora 2021.
PSPS Riau menjadi klub terakhir yang dibela Maman, pengaruhnya tetap terasa kuat—baik di ruang ganti maupun tribun stadion. Ia nyaris membawa timnya promosi ke Liga 1, namun harapannya pupus setelah kalah dari Persijap Jepara dalam laga play-off.
Menjadi Pilar Pertahanan Timnas Indonesia dalam 30 Laga Internasional
Bukan hanya di level klub, Maman juga memberi kontribusi besar bagi Timnas Indonesia, mencatatkan 30 caps antara 2004 hingga 2013. Ia tampil di berbagai turnamen regional, termasuk sebagai starter dalam laga final Piala AFF 2010 melawan Malaysia.
Jika kini sepak bola semakin cepat berotasi, Maman tetap berdiri sebagai lambang keberlanjutan dan kesetiaan. Ia bukan hanya pemain bertahan—ia adalah jangkar, pemimpin tanpa banyak teriakan, yang kehadirannya mengokohkan sistem.
Kini, setelah satu per empat abad mengawal kotak penalti, Maman melangkah keluar dari lapangan, tak hanya sebagai mantan pemain, tapi sebagai sosok yang telah menulis bab penting dalam sejarah sepak bola Indonesia. (don)


