Program TRPPL Politani Samarinda Ubah Sisa Limbah Organik Jadi Ekoenzim Pembersih Kaca

Terbit: 8 Oktober 2025

Politani samarinda
Kegiatan pengabdian masyarakat Program Studi TRPPL Politani Samarinda yang mengubah limbah organik menjadi pembersih kaca organik di Simpang Pasir, Palaran.

Prolog.co.id – Di tengah persoalan sampah rumah tangga yang terus membebani, sekelompok ibu rumah tangga di Perumahan Palma, Simpang Pasir, Palaran, Samarinda, menemukan solusi cerdas untuk mengubah limbah organik menjadi produk bernilai.

Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PKM) yang digelar Program Studi Teknologi Rekayasa Pengendalian Pencemaran Lingkungan (TRPPL), Politeknik Pertanian Negeri (Politani) Samarinda, pada Jumat, 20 September 2025, ibu-ibu dari Forum Warga Palma sukses dilatih mengolah sisa limbah sayur dan buah menjadi ekoenzim yang efektif dijadikan pembersih kaca organik; program ini bertujuan ganda yakni mereduksi volume sampah domestik sekaligus menyediakan alternatif produk rumah tangga yang ramah lingkungan dan aman.

Program ini secara spesifik berfokus pada pemberdayaan ibu-ibu yang tergabung dalam Forum Warga Palma. Tujuannya adalah memberikan keterampilan praktis untuk mereduksi sampah domestik sekaligus menciptakan produk ramah lingkungan. Langkah ini penting mengingat limbah sayur dan buah merupakan penyumbang signifikan sampah organik harian.

Ketua PKM Christine Elia Benedicta menjelaskan bahwa pemanfaatan limbah menjadi solusi ganda. Limbah sayur dan buah, jika hanya dibuang, tidak hanya menimbulkan dampak buruk bagi lingkungan seperti bau tak sedap dan potensi pencemaran, namun sebenarnya memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan kembali. Limbah tersebut bisa menjadi bahan baku pupuk alami maupun ekoenzim yang terbukti membawa manfaat besar bagi manusia dan lingkungan sekitar.

Kegiatan pelatihan ini sukses mengajarkan ibu-ibu rumah tangga cara mengolah sisa limbah menjadi cairan ekoenzim. Prosesnya melibatkan fermentasi sederhana limbah organik bersama molase yang membutuhkan waktu selama 90 hari. Setelah fermentasi, cairan serbaguna tersebut dimanfaatkan lebih lanjut untuk membuat pembersih kaca organik. Produk akhirnya terjamin aman di kulit dan diklaim efektif membuat kaca mengkilap bersih.

Tim pengabdian dari Prodi TRPPL yang terdiri dari Fachruddin Azwari, Martha Ekawati Siahaya, Kemala Hadidjah, Adi Supriadi, Arini Rajab, Andi Gita Tenri Sumpala, Christopaul Pala’langan toding Layuk, Sisie Karmita, Joko Triyono, Rusli Wahyuni, dan Estu Pangaribowo berhasil mendampingi para peserta. Mereka dibantu oleh mahasiswa Awaluddin Makrifatullah, Ahmad Rifqi, Riafinola Bugi, Desinta Mutia Andini, dan Indah Nursuciwati yang turut membantu dalam proses pengumpulan bahan baku dan pencampuran molase sebelum proses fermentasi dimulai.

Sebelum adanya program ini, ibu-ibu di Palma sering kebingungan mengelola sampah dapur mereka. Ketiadaan pengetahuan mengenai pemanfaatan limbah membuat mereka memilih jalan termudah yakni membuangnya setiap hari. Yustina, salah satu perwakilan perempuan dari Forum Warga Palma, membenarkan kendala tersebut.

“Limbah buah dan sayur setiap hari kami buang karena tidak tau mau diolah jadi apa,” ujar Yustina.

Kegiatan PKM ini hadir sebagai jawaban atas tantangan sampah rumah tangga yang terus meningkat, sekaligus mendorong warga untuk bergeser dari pola konsumsi linear menuju ekonomi sirkular.

Penggerak bank sampah dari Kota Bontang, Hajarul Azwad, yang hadir sebagai narasumber, memberikan wawasan tambahan tentang pentingnya pengelolaan sampah berkelanjutan. Ia menegaskan bahwa ekoenzim bukan sekadar produk pembersih, melainkan sebuah kegiatan daur ulang yang memiliki nilai ekonomi dan lingkungan sangat tinggi.

Hajarul Azwad menjelaskan, “Ekoenzim merupakan produk serbaguna yang dapat menggantikan banyak produk kimia rumah tangga.”

Dengan memanfaatkan limbah sayur dan buah, Forum Warga Palma kini memiliki produk yang dapat mengurangi ketergantungan pada bahan kimia berbahaya di rumah tangga, sekaligus menghasilkan produk bernilai jual. Program ini menjadi percontohan ideal bagaimana kolaborasi akademisi dan warga dapat menciptakan solusi inovatif dan berkelanjutan terhadap masalah lingkungan yang fundamental.

“Ekoenzim merupakan produk serbaguna yang dapat menggantikan banyak produk kimia rumah tangga dan menjadi kegiatan daur ulang bernilai tinggi,” tutup Hajarul Azwad.

(*)

Ikuti berita Prolog.co.id lainnya di Google News

Editor:

Redaksi Prolog

Bagikan:

Berita Terbaru
prolog

Copyright © 2024 Prolog.co.id, All Rights Reserved