Samarinda, Prolog.co.id — Semarak Kaltim Paradise of The East x Summer Fest 2025 di Convention Hall Samarinda tak hanya menampilkan gelaran ekonomi kreatif dan hiburan musik, tetapi juga menghadirkan warna tersendiri melalui Coswalk Competition dan Thematic Cosplay Competition pada Kamis malam 6 November 2025.
Ajang yang merupakan hasil kolaborasi antara Bank Indonesia (BI) dan komunitas Sora ini berhasil menarik perhatian pengunjung, dengan total lebih dari 30 peserta dari dua kategori lomba.
Panitia pelaksana dari tim EO Sora, M. Choirul, mengatakan bahwa kegiatan ini bukan pertama kali mereka adakan.
“Event seperti ini sudah sering kami buat, sudah berkali-kali. Kali ini kami berkolaborasi dengan Bank Indonesia untuk meramaikan acara besar ini,” ujarnya saat ditemui di lokasi acara.
Choirul menjelaskan, kompetisi dibagi menjadi dua sesi yakni coswalk dan thematic cosplay.
“Untuk tematik itu, peserta cosplay karakter tapi dengan unsur budaya lokal seperti batik atau kebaya. Jadi ada perpaduan antara budaya Jepang dan Indonesia,” tambahnya.
Menurutnya, kolaborasi dengan BI menjadi bentuk keterbukaan komunitas Sora dalam mendukung pengembangan ekonomi kreatif di Kalimantan Timur.
“Kami terbuka untuk kolaborasi dengan siapa pun bisa dari pemerintah, perbankan, atau pelaku industri kreatif lainnya. Yang penting tujuannya sama, memperkuat ruang ekspresi anak muda,” jelasnya.
Choirul juga mengakui, tantangan utama selama penyelenggaraan hanya soal teknis di lapangan.
“Kendala paling sering cuma miskomunikasi di area panggung. Tapi sejauh ini berjalan lancar,” katanya.
Ia mengatakan, total hadiah yang diperebutkan dalam ajang tersebut mencapai Rp6 juta.
Dua juri yang turut menilai lomba, Erru dan Sona, sepakat bahwa antusiasme peserta semakin meningkat dari tahun ke tahun.
Erru yang menilai kategori coswalk mengaku kagum dengan semangat peserta baru.
“Banyak wajah baru yang antusiasnya luar biasa. Semoga di event berikutnya makin banyak yang ikut dan terus berkembang,” ucapnya.
Sementara Sona, juri kategori thematic cosplay, menyoroti tingginya kreativitas para peserta yang memadukan karakter Jepang dengan identitas lokal.
“Banyak yang bikin kostum dengan DIY sendiri, ide-idenya luar biasa. Samarinda ternyata punya banyak cosplayer kreatif,” katanya.
Ia juga memberikan masukan agar peserta lebih percaya diri dan memperhatikan ekspresi gerak di atas panggung.
“Gerakan dan penampilan bisa lebih terbuka biar penonton lebih menikmati,” ujarnya.
Salah satu peserta, Ibnu, tampil mencuri perhatian dengan kostum bertema karakter dari anime legendaris Saint Seiya.
Ia mengaku perlu waktu hingga tiga bulan untuk menyiapkan kostumnya, dengan biaya yang tidak sedikit.
“Kostumnya saya pesan dari pengrajin di Pulau Jawa, butuh waktu lama tapi puas bisa tampil di sini,” tuturnya.
Bagi Ibnu, cosplay bukan sekadar kompetisi, tapi juga bentuk keberanian berekspresi.
“Jangan takut untuk mulai. Semua cosplayer juga pernah jadi pemula. Nggak harus langsung punya kostum mahal atau hasil sempurna, yang penting menikmati prosesnya,” pesannya.
Usai acara, panitia meyakini bahwa budaya pop seperti cosplay punya potensi besar dalam mendorong ekonomi kreatif di Samarinda.
“Budaya jejepangan ini membuka pasar baru berbasis komunitas. Ada yang jual fan merchandise, ada jasa fotografi cosplay, pembuat kostum, dan make-up artist. Jadi bukan cuma hiburan, tapi juga peluang ekonomi,” pungkas Choirul.
Event seperti ini, lanjutnya, menjadi bukti bahwa hobi bisa menjadi bagian dari ekosistem industri kreatif lokal yang terus berkembang.
Kehadiran Coswalk dan Thematic Cosplay Competition di Summer Fest 2025 membuktikan bahwa kolaborasi lintas sektor antara lembaga publik seperti BI dan komunitas kreatif mampu menciptakan ruang baru bagi generasi muda untuk berkreasi.
Perpaduan budaya Jepang dengan identitas lokal seperti batik dan kebaya menjadi simbol keterbukaan, inovasi, dan semangat creative economy di Kalimantan Timur.
“Ini bukan sekadar lomba kostum, tapi bentuk ekspresi dan jembatan budaya. Dari sini, kita lihat potensi ekonomi kreatif Kaltim yang terus tumbuh,” pungkas Choirul.
(Redaksi Prolog)


