Dari Limbah Buah dan Sayur Menjadi Cairan Pembersih Bernilai Ekonomi

Terbit: 21 Agustus 2026

eco-enzyme
Produk eco-enzyme Program Studi TRPPL melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) di Desa Suko mulyo, Kabupaten Penajam Paser Utara

Prolog.co.id, Penajam Paser Utara – Limbah buah dan sayur yang selama ini kerap berakhir sebagai sampah ternyata dapat diolah menjadi produk yang bermanfaat dan memiliki nilai ekonomi. Hal tersebut diperkenalkan Program Studi Teknologi Rekayasa Pengendalian Pencemaran Lingkungan (TRPPL) melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) di Desa Suko mulyo, Kabupaten Penajam Paser Utara, pada 19 Agustus 2026.

Kegiatan yang berlangsung di Kantor Desa Suko mulyo tersebut mengangkat tema “Pemanfaatan Limbah Buah dan Sayur Menjadi Produk Cairan Pembersih Lantai”. Kegiatan ini diikuti sebanyak 40 peserta yang terdiri dari 7 dosen, 4 tenaga kependidikan, 5 mahasiswa Program Studi TRPPL, dan 24 masyarakat Desa Suko mulyo.

1000007217

Kegiatan PkM tersebut diketuai oleh Christopaul Pala’langan Toding Layuk, S.P., M.Ling., dengan anggota Christine Elia Benedicta, S.Hut., M.Ling., Andi Gita Tenri Sumpala, S.Si., M.Ling., Fachruddin Azwari, S.T., M.Si., Adi Supriadi, S.Hut., M.Si., Dr. Martha Ekawati Siahaya, S.Hut., M.P., dan Dr. Arini Rajab, S.Si., M.Si.

Materi utama disampaikan oleh Nurul Halimah, S.Hut., M.Hut., yang memaparkan teknik pengolahan sampah organik menjadi eco-enzyme, yaitu cairan hasil fermentasi bahan organik berupa kulit buah dan sisa sayuran dengan campuran gula dan air.

1000007225

Menurut Nurul, eco-enzyme merupakan larutan hasil fermentasi sampah organik yang umumnya berwarna cokelat dan memiliki aroma asam segar. Proses fermentasi tersebut menghasilkan larutan yang mengandung enzim dan mikroorganisme yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, antara lain sebagai pembersih serbaguna, pupuk organik, hingga pestisida alami.

“Prinsip pembuatannya relatif sederhana, yaitu menggunakan perbandingan 1 bagian gula, 3 bagian sampah organik, dan 10 bagian air bersih,” jelas Nurul dalam kegiatan tersebut.

Ia menjelaskan, pemanfaatan limbah buah dan sayur melalui proses fermentasi tidak hanya menjadi alternatif dalam mengurangi timbulan sampah organik, tetapi juga membuka peluang bagi masyarakat untuk menghasilkan produk yang dapat dimanfaatkan sendiri maupun dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi.

Ketua pelaksana kegiatan, Christopaul Pala’langan Toding Layuk, menambahkan bahwa pemilihan bahan baku menjadi salah satu faktor penting dalam menghasilkan eco-enzyme yang baik. Menurutnya, bahan yang digunakan sebaiknya berasal dari limbah buah dan sayur yang masih segar, bukan bahan yang sudah membusuk atau sisa makanan yang telah dimasak.

“Bahan baku yang digunakan sebaiknya limbah buah dan sayur yang masih segar. Bukan buah yang sudah busuk maupun sisa masakan. Hal ini penting agar proses fermentasi berlangsung dengan baik dan produk yang dihasilkan tetap bersih serta aman digunakan,” ujarnya.

Sementara itu, Christine Elia Benedicta menjelaskan bahwa jenis gula yang digunakan juga perlu diperhatikan. Ia merekomendasikan penggunaan gula tebu atau molase dibandingkan gula pasir maupun gula merah.

1000007212

Menurut Christine, penggunaan gula tebu murni dapat menghasilkan cairan fermentasi yang lebih cokelat dan bersih. Produk hasil fermentasi tersebut juga dapat dikembangkan untuk berbagai keperluan, seperti pembersih kaca dan lantai. Dalam pemanfaatan tertentu, hasil fermentasi yang memenuhi persyaratan keamanan juga dapat dikembangkan untuk penggunaan lain.

Kegiatan tersebut mendapat perhatian dari masyarakat karena sebagian besar peserta merupakan petani buah di Desa Suko mulyo. Komoditas yang banyak dibudidayakan masyarakat antara lain tomat, jambu, mangga, jeruk, dan cabai.

Dalam kegiatan sehari-hari, para petani terkadang menghasilkan limbah buah yang berasal dari hasil panen yang tidak terjual di pasar maupun buah yang mengalami kerusakan fisik sehingga tidak lagi memiliki nilai jual sebagai produk segar.

Kondisi tersebut menjadi peluang untuk menerapkan prinsip ekonomi sirkular di tingkat masyarakat. Buah yang tidak lagi layak dijual sebagai produk segar tidak harus langsung dibuang, tetapi dapat dipilah dan dimanfaatkan sebagai bahan baku eco-enzyme.

Melalui pengolahan tersebut, masyarakat tidak hanya memperoleh alternatif untuk mengurangi limbah organik, tetapi juga berpotensi menghasilkan produk turunan yang memiliki nilai ekonomi. Cairan hasil fermentasi dapat dikemas dan dikembangkan sebagai produk pembersih, sementara bagian padat dari proses pengolahan dapat dikeringkan dan dimanfaatkan sebagai bahan pupuk organik.

Program Studi TRPPL berharap kegiatan tersebut dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam mengelola limbah organik dari sumbernya. Pemanfaatan limbah buah dan sayur juga diharapkan dapat menjadi langkah sederhana yang dapat diterapkan secara berkelanjutan oleh masyarakat Desa Suko mulyo.

Dengan demikian, limbah yang sebelumnya dianggap tidak bernilai dapat diubah menjadi sumber daya yang bermanfaat. Selain membantu mengurangi jumlah sampah organik yang terbuang, pengolahan tersebut membuka peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan produk ramah lingkungan sekaligus menambah nilai ekonomi dari hasil pertanian yang tidak terserap pasar.

Ikuti berita Prolog.co.id lainnya di Google News

Editor:

Redaksi Prolog

Bagikan:

Berita Terbaru
prolog

Copyright © 2024 Prolog.co.id, All Rights Reserved