Era Digital Ada Banyak Kejahatan Cyber, AJI Samarinda Gelar Workshop Waspada Phising

Terbit: 25 Agustus 2024

AJI Samarinda
Aliansi Jurnalis Indipenden (AJI) Kota Samarinda menggelar Workshop Journalis "Waspada Phising" di Tco Cafe, Jalan Banggeris, Samarinda, pada Sabtu 24 Agustus 2024.

Prolog.co.id, Samarinda – Pada era digital ini banyak keuntungan yang didapatkan. Salah satunya dapat lebih praktis. Namun sisi lain juga dapat membawa buntung, karena kejahatan dalam bentuk digital juga semakin marak.

Berdasarkan catatan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencatat pada 2023 lalu ada 279,84 juta serangan cyber kepada warga Indonesia, di mana penyerangnya sebagian besar berasal dari luar negeri.

Maka dalam hal in, Aliansi Jurnalis Indipenden (AJI) Kota Samarinda menggelar kegiatan Workshop Journalis “Waspada Phising” di Tco Cafe, Jalan Banggeris, Samarinda, pada Sabtu 24 Agustus 2024.

Dalam kegiatan tersebut, diikuti sebanyak 10 orang peserta yang merupakan para pewarta dari berbagai media massa mulai dari online hingga cetak yang ada berasal dari Kota Tepian “julukan Samarinda.

Ketua Aji Kota Samarinda, Yuda Almerio. Ia selaku dalam pembicara hal workshop ini. Pada gelaran itu ia paparkan apa yang dimaksud mengenai Phising dan sasaran yang paling sering terjadi.

Pewarta senior di Benua Etam tersebut menyebutkan bahwa Phising merupakan upaya untuk mendapatkan informasi data seseorang dengan teknik pengelabuan.

“Data yang menjadi sasaran phising adalah data pribadi (nama, usia, alamat), data akun (username dan password), dan data finansial (informasi kartu kredit, rekening),” ucapnya.

Adapun yang paling sering jadi sasaran Phising ini, di antaranya identitas pribadi ; foto, nomor telepon, alamat akun email dan password, nomor jaminan sosial, data finansial, nomor kartu debit.

“Lalu data kesehatan; riwayat kesehatan, resep obat, nomor asuransi,” tuturnya.

Sementara, terkait menjadi metode andalannya kejahatan cyber ini, yakni pemalsuan ldentitas. Ini adalah salah satu bentuk kejahatan siber yang sering terjadi di platform media sosial.

“Dalam kejahatan ini, pelaku mencuri identitas seseorang dari media sosial, seperti foto, nama, dan informasi pribadi lainnya, lalu manfaatkannya untuk melakukan tindakan kriminal,” ucapnya.

Yuda pun memberikan langkah antisipasi yang dapat diambil, di antaranya buatlah password yang sukar untuk semua platform yang digunakan, mulai dari email, sosial media hingga aplikasi yang membutuhkan kata sandi, dan bila perlu ganti berkala.

“Jangan gunakan tanggal lahir atau nama hewan kesayangan. Baiknya gunakan nama unik, bahasa daerah misalnya yang dikombinasikan dengan angka,” pungkasnya.

(Don)

Ikuti berita Prolog.co.id lainnya di Google News

Editor:

Redaksi Prolog

Bagikan:

Berita Terbaru
prolog

Copyright © 2024 Prolog.co.id, All Rights Reserved