Prolog.co.id, Samarinda — Kemiskinan ekstrem di Kalimantan Timur masih menjadi persoalan serius, khususnya di wilayah pedalaman seperti Mahakam Ulu, Kutai Barat, dan Paser. Keterbatasan akses infrastruktur dan layanan dasar membuat upaya pengentasan kemiskinan tak bisa hanya mengandalkan intervensi pemerintah semata.
Sebagai respons terhadap kondisi tersebut, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Provinsi Kalimantan Timur mengambil langkah aktif melalui program-program pemberdayaan masyarakat berbasis zakat. Ketua BAZNAS Kaltim, Ahmad Nabhan, menegaskan bahwa zakat merupakan instrumen yang adaptif dalam menjawab kebutuhan dasar masyarakat rentan.
“BAZNAS Kaltim tidak hanya hadir untuk memberi bantuan sesaat, tapi juga menggerakkan masyarakat agar mandiri dan produktif melalui program pendidikan, kesehatan, ekonomi, hingga dakwah,” ujarnya.
Salah satu program unggulan BAZNAS Kaltim adalah pemberian modal usaha kepada pedagang kecil, seperti penjual sayur keliling. Program ini dinilai efektif mendorong kemandirian ekonomi dan dilaksanakan melalui asesmen ketat agar bantuan tepat sasaran.
Tak hanya itu, Nabhan menuturkan, bahwa BAZNAS Kaltim juga menjadi mitra strategis perusahaan dalam menyalurkan dana CSR. Contohnya kerja sama dengan PT. Ansaf dalam penyediaan akses air bersih di Desa Batuah, yang selama ini kesulitan mendapatkan air layak konsumsi.
“Makanya semua program dilandaskan pada delapan asnaf penerima manfaat sesuai syariat Islam, dengan proses verifikasi dan validasi data untuk menjamin ketepatan sasaran,” tekannya.
Ia juga mengapresiasi dukungan Pemerintah Provinsi Kaltim yang mendorong Aparatur Sipil Negara (ASN) untuk menunaikan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS.
“Sebab semakin besar kesadaran menunaikan ZIS, semakin besar pula dampak yang dirasakan masyarakat,” tutupnya.
Dengan adanya dukungan yang terarah dan program yang tepat guna, Nabhan berharap zakat bisa menjadi kekuatan sosial yang nyata dalam mengatasi kemiskinan ekstrem di daerah tertinggal di Kaltim.
(Mat)


