Search
Close this search box.
Search
Close this search box.

Beras Saset Rp2.500, Budisatrio: Kita Harus Berpikir dan Membicarakan Jangka Panjangnya

Terbit: 25 November 2023

Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, G Budisatrio Djiwandono yang merespon program beras saset. (IST)
Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, G Budisatrio Djiwandono yang merespon program beras saset. (IST)

Prolog.co.id – Harga beras yang tinggi di Indonesia menjadi salah satu masalah yang terus diupayakan penyelesaiannya oleh pemerintah. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan mengeluarkan kembali program beras saset seharga Rp 2.500 per 200 gram oleh Perum Bulog. Namun, apakah program ini cukup efektif untuk menekan harga beras di pasaran? Dan bagaimana dampaknya bagi petani dan konsumen?

Program beras saset ini diumumkan oleh Direktur Utama Perum Bulog, Budi Waseso, yang mengatakan bahwa program ini akan diluncurkan tahun depan sebagai salah satu strategi intervensi harga beras. Menurutnya, beras saset ini akan disebar ke seluruh wilayah Indonesia.

“Ya nanti nih, mudah-mudahan tahun depan. Saya sedang rapatkan, kita menciptakan itu lagi untuk kita sebar ke seluruh wilayah,” ujar Buwas belum lama ini.

Namun, program ini mendapat tanggapan beragam dari berbagai pihak, termasuk dari Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, G Budisatrio Djiwandono. Ia mengatakan bahwa pemerintah juga harus memikirkan solusi jangka panjang untuk mengatasi kenaikan harga beras, bukan hanya mengandalkan program beras saset.

“Selama program itu direncanakan dan diimplementasikan dengan baik, tepat sasaran, ya pasti komisi IV tidak akan ada masalah,” kata Budisatrio, Sabtu (25/11).

“Tapi juga kita harus berpikir dan membicarakan jangka panjangnya, mulai dari (kesiapan) bibit unggul yang menjadi riset berbagai lembaga, dan ini harus kita kedepankan agar kita bisa menjaga kebutuhan pangan termasuk beras, sehingga kita bisa benar-benar menghadirkan (pasokan beras) dari dalam negeri,” tegasnya.

Data dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional menunjukkan bahwa rata-rata harga beras kualitas medium i (per kg) harian di pasar modern di beberapa provinsi telah menyentuh angka Rp 15,07 ribu per kg, data per Jumat, 24 November 2023. Secara keseluruhan, rata-rata minggu ini harga beras mengalami kenaikan, dibandingkan rata-rata pekan lalu yang tercatat Rp. 15,01 ribu per kg.

“Kami akan tetap cek apakah itu (program beras saset) baik dan seperti apa mekanismenya. Disisi lain juga kita akan terus mendorong bagaimana caranya masyarakat yang membutuhkan program ini mendapatkannya dengan tepat sasaran,” tambah Budisatrio.

Beberapa faktor yang diduga menjadi penyebab kenaikan harga beras saat ini adalah keputusan beberapa negara untuk berhenti mengekspor beras untuk mengamankan stok pangan mereka. Selain itu, ada fenomena cuaca El Nino yang mempengaruhi hasil panen secara luas di seluruh dunia, khususnya Indonesia.

Plt. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Amalia Adininggar Widyasanti, bahkan mengatakan bahwa inflasi beras pada bulan September 2023 adalah yang terparah dalam lima tahun terakhir. Dan ini adalah permasalahan yang serius.

Oleh karena itu, Budisatrio pun kembali menekankan agar pemerintah bisa mengambil langkah jangka panjang. Tak hanya sebatas mengatasi persoalan saat ini dengan kembali meluncurkan program beras saset.

“Dengan kondisi sekarang ini, kita harus benar-benar melakukan antisipasi, waspada, dan jangan sampai kita bergantung terus dari kiriman luar. Bagaimana pun kita (Indonesia) harus kembali menjadi swasembada pangan,” tutup Budisatrio.

Editor:

Redaksi Prolog

Bagikan:

Berita Terbaru
prolog

Copyright © 2024 Prolog.co.id, All Rights Reserved