Berawal Penasaran jadi Jutawan

Terbit: 18 September 2023

usaha pengolahan sabut kelapa
Ketua Koperasi Kriya Inovasi Mandara, Rusni Febriyanti.

Rasa penasaran Rusni Febriyanti menjadi cikal bakal dirinya terjun dalam usaha pengolahan sabut kelapa. Kini, produk berlabel Koperasi Kriya Inovasi Mandara (KIM) yang dipimpinnya mulai dilirik oleh pasar dan menghasilkan pundi rupiah.

Prolog.co.id, Samarinda – Niat Rusni untuk memulihkan kesehatannya ketika pulang ke tanah kelahirannya di Kecamatan Penajam, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) pada 2014 lalu, seketika berubah 180 derajat. Tumpukan sabut kelapa yang menggunung di sekitar kediamannya, membuatnya penasaran. Mengurungkan rencana awal yang akan kembali bekerja ke Kota Jakarta setelah pulih. Nazarnya bergati menjadi mencari potensi ekonomi dari bahan organik yang dianggap masyarakat sekitar sebagai limbah.

WhatsApp Image 2023 09 18 at 17.36.56

“Selama saya pulang kampung setiap sore saya jalan-jalan, saya lihat kok sabut kelapa ini ditumpuk saja, tinggi tumpukannya. Bahkan ditawari disuruh ambil sama masyarakat. Saat itu saya mikir buat apa juga saya sabut kelapa dan taruh dimana? Karena penasaran pas pulang akhirnya saya coba searching lah di internet, ternyata bisa diolah. Ada nilainya,” kata Rusni saat ditemui di Samarinda belum lama ini.

Dari berselancar di dunia maya, Rusni mengetahui produk turunan dari sabut kelapa yang selama ini dianggap sebagai limbah. Pemetaan potensi limbah sabut kelapa yang dihasilkan di PPU pun menjadi makanan Rusni sehari-hari kala itu. Tak hanya riset, dirinya turut memperlebar jaring sosialnya, mencari orang yang lebih berpengalaman dalam pengolahan sabut kelapa.

Usaha Rusni akhirnya berbuah hasil, pada 2016, ada investor yang berminat membangun pabrik pengolahan sabut kelapa di tanah kelahirannya. Bahkan, dirinya dipercaya sebagai pengelola.

“Singkat cerita akhirnya ketemu lah sama investor. Sempat ke Penajam, saya ajak keliling dan berselang beberapa hari setelah itu, dihubungi kembali untuk buka pabrik. Kebetulan saya yang dipercaya untuk mengelola,” ingat perempuan kelahiran Februari 1975 ini.

“Saat itu, kalau tidak salah hasil dari pabrik juga sempat diekspor ke China sebelum pandemi Covid-19. Tapi pastinya saya kurang tahu, karena saya cuma dipercaya mengelola saja dan mengirim hasilnya ke investor,” sambungnya.

Meski telah dipercaya sebagai pengelola pabrik, Rusni tak langsung puas dengan pencapaiannya. Dirinya mencoba mencari produk turunan lain dari sabut kelapa. Mengolah hasil produksi dari pabrik yang tak terpakai menjadi kerajinan.

“Jadi pabrik itu kan jangka waktunya cuman tujuh tahun saja dan hingga kini belum jalan (produksi) lagi. Tapi pada 2020, ketika perusahaan berjalan empat tahun, saya izin sama investor untuk buat koperasi (Koperasi KIM) dan minta stok produksi yang berlimpah dan nggak terpakai agar bisa dikelola masyarakat,” ucap ibu tiga anak ini.

Perjalanan Koperasi KIM rupanya tak mulus, seiring meningginya kasus Covid-19 saat itu. Berbanding terbalik dengan minat masyarakat untuk bergabung dengan Koperasi KIM. Meskipun demikian, Rusni tak putus semangat. Tetap mengajak masyarakat sekitar khususnya ibu-ibu sekitar rumahnya, sembari mencari tahu kerajinan yang dapat dihasilkan dari sabut kelapa.

“Saya coba mulai lah, coba mengajak, meskipun aktivitas saya sebenarnya seharian juga di pabrik, yah Bismillah saja. Uniknya saat mencari anggota koperasi saat itu dengan cara menjual sembako murah, selain ikut membantu warga akibat dampak Covid-19, sekaligus memperlihatkan bisa jadi apa saja dari sabut kelapa, jadi akhirnya meraka tertarik. Alhamdulilah anggota koperasi kami sudah sekitar 300 orang,” kata Rusni mengenang usahanya.

Pot bunga menjadi kerajinan awal yang lahir dari Koperasi KIM. Walaupun saat itu karya yang diciptakan koperasi yang masyoritas beranggotan kaum ibu ini hanya sekadar dipajang saja. Dijadijan bahan pembelajaran kembali sebagai bekal penyempurnaan kerajinan selanjutnya. Sebab, saat itu tidak tahu bagaimana memperjualbelikan kerajinan yang dihasilkan. Ditambah masa pagebluk yang belum usai membuat daya beli dan minat belanja masyarakat terhadap kerajinan menurun drastis.

WhatsApp Image 2023 09 18 at 17.36.57

“Pada awal koperasi itu selain buat cocopead dan kerijinan, untuk cocofiber dari mesin pengolahan, kami juga buat pupuk organik. Bahkan selama belum bisa dipasarkan kami terus buat kerajinan hingga kini sudah lebih 50 kerajinan yang kami buat. Kami coba semua potensi dan peluang walau pun belum ada pasarnya,” imbuhnya.

Berselang dua tahun, tepatnya pada 2022, usaha keras dan ketekunan Rusni mulai terbayar. Hasil kerajinan dari Koperasi KIM mulai dilirik pasar, pun demikian dengan produk cocopead.

Alhamdulilah tahun ini, tepatnya dua bulan lalu kami dapat bantu alat dari Pertamina, walaupun produksinya lebih kecil. Pesanan juga sudah ada, tapi masih sebatas pre-order untuk kerajinan. Untuk cocopead, juga sudah ada pesanan dari Perusahaan HTI (Hutan Tanam Industri) untuk media tanam sebanyak 70 ton per tiga bulan.” kata Rusni bersyukur.

Pintu rezeki dari keuletan rusni pun kini mulai terbuka lebar. Untuk hasil cocopead dengan kapasitas produksi 25 ton per bulan saja, omzet yang dihasilkan mencapai Rp 25 juta.

“Tapi itu kan omzet yah, belum dipotong biaya produksi dan lain-lain,” imbuhnya.

Tak hanya mulai diminati, koperasi besutan Rusni yang kini berada di bawah bimbingan Disperindagkop dan UKM Kaltim, juga mendapatkan bantuan alat produksi. Meskipun hasil produksinya tak sebesar dengan pabrik yang sebelumnya beroperasi.

Alhamdulilah jika mulai dilirik. Jadi menurut saya, meskipun kita tidak punya apa-apa tapi kalau tetap bekarya pasti nanti akan ada orang yang apresiasi kita, daripada terus menunggu dan tidak berbuat apa-apa, itu nothing. Awalnya saya jalankan pabrik juga nggak punya modal, tapi yah niat,” tutup pengusaha sabut kelapa Benua Etam ini.

(Redaksi Prolog)

Ikuti berita prolog.co.id lainnya di Google News

Ikuti berita Prolog.co.id lainnya di Google News

Editor:

Redaksi Prolog

Bagikan:

Berita Terbaru
prolog

Copyright © 2024 Prolog.co.id, All Rights Reserved