Prolog.co.id, Samarinda – Dalam rangka menghadirkan solusi inovatif bagi pekerja dan mengatasi tantangan sosial-ekonomi, BPJS Ketenagakerjaan menyelenggarakan Social Security Summit 2024.
Acara ini menjadi forum diskusi untuk menciptakan strategi kolaboratif dalam mendukung negara-negara berpenghasilan rendah menghadapi perubahan global.
Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan, Anggoro Eko Cahyo, menjelaskan bahwa salah satu tantangan utama Indonesia menuju visi Indonesia Emas 2045 adalah keluar dari jebakan pendapatan menengah (middle income trap).
“Sejak 1993, ekonomi Indonesia berada dalam kategori ini, tanpa berhasil naik kelas menjadi negara maju,” ujarnya, Selasa 26 November 2024.
Selain itu menurut Anggoro, tantangan lainnya adalah optimalisasi bonus demografi yang puncaknya terjadi pada 2025-2035.
“Sebab setelah itu, proporsi usia lanjut di Indonesia akan meningkat dua kali lipat pada 2045, sehingga perlu langkah strategis sejak sekarang,” tambahnya.
Maka dari itu ia menekankan pentingnya sistem jaminan sosial sesuai konstitusi, berdasarkan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945, Pasal 28 H dan Pasal 34 Ayat 2, mengamanatkan negara untuk memastikan jaminan sosial bagi seluruh rakyat.
Lebih lanjut, Anggoro menambahkan hingga saat ini, BPJS Ketenagakerjaan mencatat ada sebanyak 40 juta peserta, terdiri dari 25 juta pekerja formal, 9,4 juta pekerja informal, dan 5,6 juta pekerja konstruksi.
“Namun, dengan jumlah tersebut kita masih memiliki tantangan besar, terutama terkait 60 juta pekerja informal yang belum sepenuhnya terintegrasi dalam sistem jaminan sosial ketenagakerjaan,” sebutnya.
Dirinya menekankan, melalui Social Security Summit 2024, BPJS Ketenagakerjaan ingin bisa merumuskan hasil strategi yang memperkuat sistem jaminan sosial ketenagakerjaan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Kami ingin melahirkan langkah konkret untuk menghadapi kondisi ketenagakerjaan yang terus berubah,” tutup Anggoro.
(Mat)


