Prolog.co.id, Samarinda — Kota Samarinda kembali menjadi pusat perayaan budaya internasional lewat gelaran East Borneo International Folklore Festival 2025 (EBIFF 2025) yang berlangsung pada 24–29 Juli 2025. Festival ini menampilkan pertunjukan seni dari dalam dan luar negeri serta menjadi momentum penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif dan UMKM di Kalimantan Timur.
Sebanyak tujuh kabupaten/kota di Kaltim turut berpartisipasi, yaitu Kutai Kartanegara, Bontang, Kutai Timur, Mahakam Ulu, Samarinda, Berau, dan Balikpapan. Sementara tiga daerah lain, Paser, Penajam Paser Utara, dan Kutai Barat belum terlibat dalam penyelenggaraan tahun ini.
Sekretaris Daerah Provinsi Kaltim, Sri Wahyuni, memastikan seluruh persiapan telah dilakukan secara menyeluruh. Mulai dari pengamanan, layanan kesehatan, hingga kesiapan lokasi kegiatan telah dikoordinasikan dalam rapat final bersama seluruh kelompok kerja (Pokja) terkait.
“Pokja keamanan sudah siapkan rute kirab budaya agar berjalan nyaman. Sementara Pokja kesehatan juga telah menyiagakan ambulans dan tenaga medis,” jelas Sri.
Festival ini tidak hanya melibatkan seniman lokal dan nasional, tetapi juga partisipan mancanegara. Sejumlah delegasi seni dari India, Korea Selatan, Romania, Rusia, dan Polandia dijadwalkan tampil bersama perwakilan dari Kalimantan Utara, NTT, Sulawesi Barat, Sulsel, dan Sultra.
Selain sebagai ajang pertukaran budaya, EBIFF juga diharapkan menjadi penggerak ekonomi daerah. Sri Wahyuni menyebut, pengunjung festival akan diarahkan untuk mengunjungi pusat galeri UMKM di kawasan Basuki Rahmat dan Citra Niaga, guna memperkenalkan produk khas Kaltim kepada wisatawan.
Untuk akomodasi peserta, panitia telah menyiapkan penginapan di Swiss-Belhotel Samarinda. Sementara penataan parkir dan arus lalu lintas akan dikoordinasikan oleh Dinas Perhubungan dan Polresta Samarinda.
Kepala Dinas Pariwisata Kaltim, Ririn Sari Dewi, menargetkan jumlah pengunjung EBIFF tahun ini mencapai 10.000 orang—naik dua kali lipat dibanding penyelenggaraan sebelumnya.
“Target kita minimal 10.000 pengunjung tahun ini. Selain menampilkan pertunjukan budaya, event ini juga akan mendongkrak okupansi hotel dan perputaran ekonomi UMKM pasca kebijakan efisiensi sebelumnya,” ujarnya optimistis.
Dengan perpaduan antara budaya, pariwisata, dan ekonomi, EBIFF 2025 diharapkan menjadi ajang yang bukan hanya meriah secara visual, tetapi juga berdampak luas bagi masyarakat Kalimantan Timur.
(Mat)


