PAD Kaltim Dinilai Belum Optimal, DPRD Soroti Potensi Kebocoran Pajak Alat Berat

Terbit: 17 Desember 2025

Anggota Komisi II DPRD Kaltim Firnadi Ikhsan.

Prolog.co.id, Samarinda – Anggota Komisi II DPRD Kalimantan Timur (Kaltim) Firnadi Ikhsan menilai optimalisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) masih menjadi pekerjaan rumah besar yang menghambat percepatan pembangunan infrastruktur di daerah.

Menurutnya, Kaltim memiliki sumber penerimaan yang besar, namun belum dikelola secara maksimal oleh pemerintah daerah. Firnadi menyebut, sektor berbasis kekayaan alam, mulai dari pertambangan hingga industri energi, menyimpan potensi signifikan untuk meningkatkan PAD, terutama melalui pajak dan retribusi daerah.

“PAD adalah peluang legal yang harus dimanfaatkan. Dengan sumber daya yang kita miliki, penerimaan daerah seharusnya bisa jauh lebih optimal,” kata Firnadi.

Salah satu potensi penerimaan yang dinilai masih banyak kebocorannya adalah pajak alat berat. Berdasarkan Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) BPK tahun 2024, Kaltim disebut kehilangan potensi pendapatan hingga Rp50 miliar dari sektor tersebut.

Menurut Firnadi, angka itu sangat besar karena setara dengan pembangunan jalan sekitar lima kilometer.Selain pajak alat berat, ia juga menyoroti belum maksimalnya penerimaan pajak Bahan Bakar Minyak (BBM) industri.

Ia menilai, jika seluruh perusahaan yang beroperasi taat aturan dan menyetor pajak sesuai ketentuan, pendapatan provinsi bisa meningkat signifikan.“Kalau seluruh pajak BBM industri masuk sesuai aturan, bagi hasil pajak yang diterima Kaltim akan sangat besar,” tegas politisi PKS itu.

Firnadi menambahkan, PAD Kaltim saat ini memang sudah mencapai sekitar Rp10 triliun atau hampir 50 persen dari total APBD. Namun, capaian tersebut dinilai masih jauh dari potensi ideal, mengingat masih banyak sektor pajak dan retribusi yang belum dioptimalkan.

Selain sektor perpajakan, ia juga menilai pengelolaan alur sungai belum memberikan kontribusi maksimal bagi daerah. Aktivitas bongkar muat, jasa pemanduan kapal, hingga tarif tambat ponton disebut masih perlu penataan agar bisa menjadi sumber penerimaan baru.“Masyarakat butuh pembangunan, dan itu hanya bisa terwujud jika seluruh potensi PAD digarap secara serius dan optimal,” pungkasnya.

(Nur/Adv)

Ikuti berita Prolog.co.id lainnya di Google News

Editor:

bisnis

Bagikan:

Berita Terbaru
prolog

Copyright © 2024 Prolog.co.id, All Rights Reserved