Pemindahan SMAN 10 Samarinda Tuai Sorotan: Orang Tua Keluhkan Fasilitas Asrama dan Minimnya Pelayanan

Terbit: 28 Juli 2025

SMAN 10
SMAN 10 Samarinda. (Ist)

Prolog.co.id, Samarinda – Pemindahan Sekolah Menengah Atas Negeri 10 (SMAN 10) Samarinda ke kawasan Samarinda Seberang yang telah berlangsung secara resmi nyatanya belum berjalan mulus.

Sejumlah orang tua siswa mengaku kecewa atas kondisi sarana dan prasarana yang dinilai belum siap, terutama terkait fasilitas asrama. Keluhan pun bermunculan, mulai dari asrama yang belum layak huni hingga ketidakpastian lokasi penempatan siswa.

Saat ini, baru siswa kelas X yang telah sepenuhnya dipindahkan ke lokasi baru di Samarinda Seberang. Sementara itu, siswa kelas XI dan XII masih bertahan di gedung lama di Jalan PM Noor. Ironisnya, informasi mengenai keberadaan siswa asrama tidak jelas, ada yang menyebut mereka menginap di Gedung Education Center, bahkan ada kabar rencana pemindahan ke Gedung Bandiklat.

“Anak saya sempat datang ke asrama di seberang, katanya masih kotor sekali. Tapi katanya disuruh tinggal di Education Center dulu. Padahal ranjangnya sudah dipindah ke seberang,” ungkap salah satu orang tua siswa yang enggan disebutkan namanya.

Tak hanya soal tempat tinggal, pelayanan bagi siswa kelas XI dan XII juga dikeluhkan. Di Education Center, menurut beberapa orang tua, kegiatan belajar tidak berjalan efektif dan maksimal, bahkan sering tanpa guru atau pelayanan tata usaha. Para siswa pun merasa seperti tidak diutamakan dibandingkan dengan siswa kelas X yang telah menempati gedung baru.

Mirisnya, para orang tua merasa enggan menyampaikan keluhan secara terbuka karena muncul isu adanya ancaman somasi terhadap mereka yang bersuara. Meski belum jelas siapa yang mengeluarkan ancaman tersebut, kondisi ini menambah kekhawatiran di tengah ketidakpastian yang mereka hadapi.

Menanggapi berbagai keluhan tersebut, Sekretaris Jenderal Dewan Pendidikan Kaltim, Sudarman, menyatakan bahwa pihaknya telah mengambil langkah. Sebuah tim peninjau dibentuk untuk mengevaluasi kesiapan sarana dan prasarana SMAN 10, termasuk kondisi asrama dan pembagian lokasi siswa.

“Kami ingin memastikan kebenaran informasi ini, termasuk soal pembagian siswa antara PM Noor dan Yayasan Melati. Ada juga persoalan kelistrikan dan fasilitas lain yang belum optimal,” jelas Sudarman 28 Juli 2025.

Ia menambahkan bahwa pihaknya telah mengirim surat resmi kepada Dinas Pendidikan Provinsi Kaltim dan pihak SMAN 10 untuk melakukan kunjungan lapangan. Peninjauan itu direncanakan pada Selasa atau Rabu, 29 atau 30 Juli 2025. Namun ia enggan mengomentari lebih jauh soal isu somasi terhadap orang tua siswa.

“Soal somasi itu saya tidak tahu. Tapi dalam pengembangan SMAN 10 ini, kami memang akan melibatkan para orang tua siswa agar bisa menjadi bagian dari proses perbaikan,” tambahnya.

Kemudian , Ketua Komisi IV DPRD Kaltim, H. Baba, yang sempat meninjau langsung kondisi asrama di lokasi baru, menilai bahwa fasilitas yang ada sudah cukup layak, meski masih membutuhkan penyempurnaan.

“Kalau menurut saya, asramanya sudah bisa digunakan. Tapi tentu perlu dibenahi di beberapa bagian. Kita akan kunjungi lagi nanti jika pihak sekolah sudah siap,” ujarnya.

Pemindahan SMAN 10 Samarinda yang seharusnya menjadi langkah menuju peningkatan kualitas pendidikan justru menjadi polemik karena minimnya kesiapan. Para orang tua berharap pemerintah dan pihak sekolah segera menyelesaikan persoalan ini secara terbuka dan bertanggung jawab agar kegiatan belajar mengajar kembali berjalan normal dan siswa mendapatkan haknya secara penuh.

(Mat)

Ikuti berita Prolog.co.id lainnya di Google News

Editor:

Redaksi Prolog

Bagikan:

Berita Terbaru
prolog

Copyright © 2024 Prolog.co.id, All Rights Reserved