Prolog.co.id, Samarinda – Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Pemprov Kaltim) mengambil langkah serius dalam penanganan banjir yang kerap melanda wilayahnya, khususnya Kota Samarinda. Salah satu upaya utama yang kini tengah diusulkan adalah normalisasi Sungai Mahakam, yang menjadi urat nadi utama aliran air di Kaltim, terutama dari Kutai Barat, Samarinda hingga Kutai Kartanegara.
Gubernur Kaltim, Rudy Mas’ud menilai pengerukan sungai merupakan langkah penting agar air dapat mengalir dengan baik, mengurangi potensi genangan yang sering terjadi saat hujan dengan intensitas tinggi.
“Sungai Mahakam harus segera dinormalisasi. Harus dikeruk agar aliran air tidak tertahan dan menyebabkan banjir,” ujar Rudy Mas’ud.
Usulan senada disampaikan Wakil Gubernur Kaltim, Seno Aji. Ia menjelaskan bahwa rencana ini memiliki dasar kuat karena Kementerian Pekerjaan Umum (PU) pernah melaksanakan program serupa pada tahun 2000 silam. Pemprov pun telah mengajukan surat resmi kepada Kementerian PU dan Kementerian Perhubungan untuk meminta dukungan anggaran maupun pelaksanaan teknis.
“Sekarang kita upayakan agar dana bisa didorong lagi, mungkin juga dari Perhubungan Laut,” terang Seno.
Ia menyebutkan, fokus normalisasi akan dimulai dari wilayah hilir, seperti perbatasan muara hingga ke Jembatan Mahakam di Samarinda, mengingat daerah tersebut tergolong paling dangkal dan rawan banjir.
Namun secara keseluruhan, program ini akan menjangkau aliran Mahakam dari Kutai Barat hingga ke Samarinda.
“Terutama kita prioritaskan daerah yang dangkal dulu, baru lanjut ke wilayah hulu. Sepertinya juga akan ada penurapan seperti yang sudah dilakukan di Sungai Karang Mumus,” tambahnya.
Untuk mempercepat dan meningkatkan efektivitas proyek ini, Pemprov Kaltim juga akan memanfaatkan teknologi canggih, seperti sonar dan alat deteksi bawah air. Teknologi tersebut memungkinkan pemerintah memetakan volume sedimen yang harus dikeruk secara lebih akurat di setiap titik genangan.
“Alat kita sekarang sudah canggih. Kita bisa deteksi titik-titik genangan, berapa kubik tanah yang harus diambil, semuanya bisa dihitung dengan presisi,” jelas Seno.
Dengan normalisasi sungai tersebut dirinya berharap upaya ini akan menjadi solusi jangka panjang atas permasalahan banjir yang selama ini menjadi momok tahunan di Samarinda dan sekitarnya.
(Mat)


