Prolog.co.id, Samarinda—Turunnya peringkat Kaltim dari provinsi dengan pengguna narkoba terbanyak ke posisi ke-13 nasional belum menjadi alasan untuk berpuas diri. Meski terjadi perbaikan dibandingkan sebelumnya yang sempat berada di peringkat keempat, ancaman penyalahgunaan narkoba dinilai masih nyata, terutama bagi kalangan generasi muda.
Fakta bahwa Kaltim masih berada di jajaran atas dari total 38 provinsi di Indonesia menunjukkan persoalan narkoba belum sepenuhnya terkendali. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran terhadap dampak jangka panjang, khususnya terhadap kualitas sumber daya manusia di daerah.
Wakil Ketua III DPRD Kaltim, Yenni Eviliana, menegaskan perang melawan narkoba tidak boleh dilakukan setengah-setengah. Menurutnya, penyalahgunaan narkoba merupakan ancaman serius bagi masa depan anak-anak muda di Kaltim.
“Menurut saya sebagai orang tua yang punya anak muda, narkoba ini harus diberantas dengan cara apa pun,” ujar Yenni.
Sebagai wakil rakyat sekaligus orang tua, ia menyoroti dampak narkoba yang merusak proses tumbuh kembang generasi muda. Penyalahgunaan zat terlarang tersebut dinilai dapat menggerus potensi dan masa depan anak-anak sejak usia dini.
“Narkoba ini sangat mempengaruhi tumbuh kembang anak-anak kita, dampaknya negatif sekali bagi generasi muda,” katanya.
Yenni menilai, upaya pencegahan harus dilakukan secara masif dan terstruktur. Pemerintah daerah, menurutnya, tidak bisa bekerja sendiri, tetapi perlu menggandeng berbagai pihak untuk memperkuat edukasi dan sosialisasi bahaya narkoba.
“Harus ada kerja sama dengan pihak-pihak terkait, lewat seminar, kegiatan edukatif, dan acara-acara positif yang memberi pemahaman kepada anak-anak muda,” tuturnya.
Selain edukasi, ia juga menekankan pentingnya menyediakan ruang dan aktivitas produktif bagi generasi muda, terutama mereka yang belum memiliki pekerjaan tetap. Kekosongan aktivitas, kata dia, kerap menjadi celah masuknya pengaruh negatif, termasuk narkoba.
“Supaya anak-anak muda, termasuk yang masih menganggur, punya kegiatan positif. Dengan begitu, risikonya bisa ditekan,” ujarnya.
Dengan kondisi Kaltim yang masih berada di peringkat atas penyalahgunaan narkoba, Yenni berharap langkah konkret dan berkelanjutan segera dilakukan.
Sinergi antara pemerintah, lembaga pendidikan, aparat penegak hukum, komunitas, dan masyarakat luas dinilai menjadi kunci untuk melindungi generasi muda dari ancaman narkoba yang terus mengintai.
(Nur/Adv)


