Prolog.co.id, Samarinda – Pelaksanaan Musabaqoh Tilawatil Qur’an Nasional (MTQN) ke XXX di Samarinda sudah memasuki hari ketiga dengan penampilan puluhan peserta kategori tilawah tuna netra yang tampil maksimal di Auditorium Universitas Mulawarman (Unmul).
Koordinator Majelis Arena Tartil dan Tilawah Canet, Yuliansyah, memastikan bahwa pelaksanaan kompetisi secara keseluruhan berjalan lancar sejak hari pertama.
“Memang ada sedikit keterlambatan teknis di hari pertama, karena kami masih beradaptasi dengan metode digitalisasi,” ungkap Yuliansyah, Rabu 11 September 2024.
Ia menjelaskan dalam kompetisi yang berlangsung di salah satu venue terbagi dalam dua kategori, yakni Cabang Tilawah Golongan Tartil dan Canet, dengan total 129 peserta, terdiri dari peserta tartil 40 putri dan 41 putra. Sementara peserta tuna netra terdiri dari 26 laki-laki dan 22 perempuan.
Pelaksanaan lomba dibagi menjadi dua sesi, dengan tilawah golongan tartil dan tilawah tuna dengan setiap harinya, rata-rata tampil 12 hingga 14 peserta tartil dan 8 peserta tuna netra.
Yuliansyah menuturkan MTQN tahun ini juga menjadi MTQ pertama yang memanfaatkan kemajuan teknologi melalui sistem penilaian digital yang dinilai lebih efisien.
“Hasil penilaian bisa dilihat secara online, sehingga peserta bisa mengetahui hasilnya dengan cepat,” ujarnya.
Untuk peserta tuna netra, ada dua metode yang digunakan, sesuai dengan petunjuk teknis MTQN.
“Beberapa peserta membaca dengan Al-Qur’an Braille, sementara sebagian besar menggunakan metode hapalan, di mana mereka menghapal tiga makro dan mengundi satu yang akan dibacakan,” paparnya.
Yuliansyah menekankan bahwa baik metode membaca Al-Qur’an Braille maupun hapalan, penilaian tetap dilakukan dengan standar yang sama.
“Ini kekhususan bagi peserta tuna netra, karena ada yang hanya hapal dan tidak bisa membaca Al-Qur’an Braille,” tandasnya.
(Mat)


