Subsidi Air Bersih bagi Masyarakat Kategori Miskin dan Miskin Ekstrem

Terbit: 20 Maret 2023

Samarinda
Wali Kota Samarinda, Andi Harun saat memberikan subsidi ke masyarakat secara simbolis pada 13 Maret lalu.

Prolog.co.id, Samarinda – Berbagai upaya kini ditempuh Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda dalam penurunan angka kemiskinan dan miskin ekstrem di Kota Tepian. Selagi verifikasi dan validasi (verval) berjalan untuk mencegah adanya bias data, beberapa masyarakat yang telah terdata kini mulai diberikan subsidi. Salah satunya, pemberian subsidi air bersih.

Wali Kota Samarinda, Andi Harun mengatakan pemberian bantuan air bersih dari Perumdam Tirta Kencana ini merupakan bentuk keberpihakan dalam pengurangan angka kemiskinan dan kemiskinan ekstrem di Samarinda. Sejalan dengan upaya Pemkot Samarinda yang ingin mewujudkan kemiskinan ekstrem tuntas pada akhir 2023 mendatang.

“Ini merupakan program keberpihakan Tirta Kencana kepada dukungan pengurangan angka kemiskinan dan kemiskinan ekstrem di Samarinda. Termasuk sebagai langkah peningkatan pelayan kepada masyarakat Kota Tepian,” singkatnya.

Subsidi air bersih ini diberikan kepada 30 Kepala Keluarga (KK). Rinciannya, 20 KK yang tergolong miskin ekstrim dan 10 KK orang tergolong miskin. Data tersebut hasil dari pendataan Dinas Sosial Kota Samarinda. Adapun barntuan yang diberikan berupa 10 kubik per bulan bagi warga miskin dan 20 kubik bagi warga miskin ekstrem.

Untuk diketahui, Pemkot Samarinda kini tengah berupaya dalam pengurangan angka kemiskinan ekstrem di Kota Tepian, yang mencapai 9.032 jiwa. Namun, dari verval yang merujuk data Pensasaran Percepatan Penghapusan Kemiskinan Ekstrem (P3KE), diperkirakan sebanyak 2 ribu orang sudah keluar dari kategori miskin ekstrem. Adapun, langkah yang diambil Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan (TKPK) Samarinda harus merumuskan aksi nyata berbentuk rencana aksi tahunan (RAT). Termasuk Perumda Tirta Kencana di dalamnya, melalui subsidi air bersih yang ditujukan bagi warga miskin dan miskin ekstrem.

Terpisah, Direktur Perumdam Tirta Kencana Samarinda Ali Rachman mengatakan, penerima bantuan air bersih ini pun nantinya dapat bertambah. Seiring tuntasnya verval satu data kemiskinan yang kini masih berlangsung dan ditargetkan rampung pada akhir Maret 2023. Langkah ini dilakukan untuk membantu pemerintah mengurangi salah satu kualifikasi masyarakat miskin ekstrim di Samarinda.

“Sementara ada 20 (miskin ekstrim), nanti akan terus bertambah, kan masih verifikasi terus,” ucapnya.

Selain pemberian subsidi bagi warga kategori miskin dan miskin ekstrem, Perumdam Tirta Kencana kini tengah melakukan peningkatan pelayanan. Setidaknya ada tiga inovasi dari Perumdam Tirta Kencana yang telah diresmikan Wali Kota Samarinda Andi Harun di Hotel Bumi Senyiur pada Senin (13/3) lalu. Yakni, Peluncuran smart water meter, aplikasi Lapor Bayar (Layar), termasuk pemberian subsidi bagi warga miskin dan miskin ekstrem berupa pemotongan pemakaian rekening air bulanan.

Lebih rinci soal inovasi tersebut, tahun ini Perumdam Tirta Kencana menggandeng Telkom untuk pemasangan smart water meter. Teknologi itu memanfaatkan internet of things (IoT) yang disematkan pada perangkat water meter. Sehingga pemakaian bulanan sambungan rumah (SR) dapat dipantau dari control room perumdam. Smart water ini nantinya akan dipasang sebanyak 2.500 unit dan dilakukan secara bertahap selama lima tahun.

“Sasarannya adalah SR di perumahan karena dianggap lebih mudah dalam pemantauan. Alat itu juga pakai baterai, dengan masa pakai hingga lima tahun. Jaringan internetnya juga tidak bercampur dengan pemilik rumah. Seluruhnya menjadi tanggung jawab Telkom,” terangnya.

Dalam peningkatan pelayanan yang dilakukan Tirta Kencana juga menjalin kerja sama juga dijalin dengan Perumda Air Minum Tugu Tirta Malang terkait dengan penekanan non-revenue water (NRW) lewat pemasangan alat district meter area (DMA). Tahun ini juga akan menggelontorkan anggaran Rp 10 miliar untuk memasang 12 perangkat DMA, menambah perangkat yang sudah dipasang sebelumnya, sehingga di akhir 2023, total alat terpasang sekitar 26 unit.

“Kami belajar dari pengalaman Perumda Tugu. Di Malang, sekitar 279 DMA terpasang. Target kami dengan alat yang ada bisa mengurangi minimal 1 persen NRW dari catatan terkini sekitar 36 persen dari produksi,” harapnya.

(Redaksi Prolog)

Ikuti berita prolog.co.id lainnya di Google News

Ikuti berita Prolog.co.id lainnya di Google News

Editor:

Redaksi Prolog

Bagikan:

Berita Terbaru
prolog

Copyright © 2024 Prolog.co.id, All Rights Reserved