Search
Close this search box.
Search
Close this search box.

,

Tak Hanya Sektor Migas dan Minerba, Peluang Ekspor Bisa Digali dari Bahan Baku Lain

Terbit: 30 Agustus 2023

Ekspor Kaltim
Ketua DPD GPEI Kaltim, Mohammad Hamzah. (Dok Prolog)

Samarinda, Prolog.co.id – Sejauh ini, produk yang diekspor dari Kaltim masih didominasi oleh sektor batu bara serta minyak dan gas (migas). Padahal peluang ekspor dari bahan baku lainnya masih sangat potensial.

Tercatat ada 10 produk ekspor utama Kaltim yang dihimpun oleh Direktorat Pengembangan Pasar dan Informasi Ekspor di Kementerian Perdagangan (Kemendag).

Pertama, ada batu bara (oth than Anthracite & Bituminous) dengan nilai USD 18,96 miliar (56,68 persen), batu bara (Bituminous) USD 6,86 miliar (20,55 persen), CPO (Oth Than Crude) USD 2,66 miliar (7,94 persen), Batu Bara Muda (Lignite) USD 2,06 miliar (6,15 persen), Bahan Kimia Anorganik (Ammonia) USD 937,9 miliar (2,80 persen), serta Pupuk USD 789,9 juta (2,36 persen).

Selanjutnya, ada Prod Kimia (Industrial Monocarboxylic Fatty Acids) USD 226,9 juta (0,68 persen), turunan CPKO USD 215,2 juta (0,64 persen), CPO (crude) USD 147,8 juta (0,44 persen), dan Kayu Lapis Plywood USD 139,9 juta (0,42 persen).

Sementara itu, Ketua DPD Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia (GPEI) Kaltim, M Hamzah menilai jika banyak sekali bahan baku yang bisa diekspor dari Kaltim. Diantaranya sektor perikanan. Apalagi, Kaltim juga memiliki banyak danau dan otomatis hasil perikanannya juga variatif.

“Misalnya perikanan Kaltim. Itu sangat banyak. Kita punya banyak danau, kalau laut kan sudah umum. Kita ada tambak yang luar biasa luas. Jika dikelola dengan baik, itu bisa menjadi uang,” ungkap Hamzah.

Jika pengelolaan bahan baku bisa dimaksimalkan dan terarah, Hamzah juga optimistis uang-uang yang dihasilkan dari pengelolaan itu 100 persennya akan masuk ke kantong masyarakat Kaltim itu sendiri. Pun demikian dengan peluang ekspor Kaltim yang semakin meningkat.

Namun terlepas dari itu, menurutnya penting juga untuk memberdayakan masyarakat melalui pelatihan atau diklat. Hamzah memberi contoh, ada banyak produk turunan sawit tapi tidak ada pelatihan spesifik untuk mengelolanya.

“Kalau seperti itu, kita harus turun ke Balai Latihan Kerja (BLK). Harus ada diklat-diklat pendidikan teknis yang membuat masyarakat itu berkembang kemampuannya,” sambung Hamzah.

Sepengetahuan Hamzah, hal serupa sudah lebih dulu diterapkan di Pulau Jawa. Salah satunya di Jepara yang terkenal dengan kerajinan mebel. Di sana, BLK-nya sudah turun tangan untuk memberi pelatihan dalam hal memperkenalkan mesin alat ukir hingga cara mengukir.

Dia kembali mencontohkan, gula merah bisa jadi salah satu produk yang dioptimalkan untuk ekspor. Sebab bahan bakunya ada di Kaltim. Namun lagi-lagi, pelatihan yang mengarah ke sana masih belum banyak. Termasuk iklan untuk memasarkan produk tersebut secara konsisten.

“Ada enggak iklan untuk memasarkan produk itu secara terus menerus dan konsisten? Lengkap dengan hotline-nya bagi masyarakat sebagai produsen maupun hotline bagi pasar yang mengedarkan,” ujarnya lagi.

Garansi bagi produk yang dihasilkan juga tak kalah penting. Hal ini berkaitan erat dengan level mutu tertentu maupun dalam pemenuhan aturan dan standar-standar internasionalnya.

“Barang ini kan enggak ada. Bagaimana kita mau ekspor?” ucap Hamzah.

Ditegaskan Hamzah, sumber daya manusia (SDM) jadi hal yang krusial. Apalagi mereka yang mumpuni dan punya kemampuan lebih untuk mengelola suatu produk.

“Artinya sektor SDM itu juga penting. Kalau ini sudah ada, jadinya enak karena iklimnya sudah sesuai. Baru nanti masuk ke aspek keuangan, permodalan,” tandasnya. (Redaksi Prolog)

Ikuti berita prolog.co.id lainnya di Google News

Editor:

Redaksi Prolog

Bagikan:

Berita Terbaru
prolog

Copyright © 2024 Prolog.co.id, All Rights Reserved