Prolog.co.id, Tenggarong – Sebuah rumah sederhana di Desa Sedulang, Kutai Kartanegara, (Kukar) kini bertransformasi menjadi benteng pertahanan melawan stunting. Rumah Bahagia, yang dulunya hanya tempat penitipan anak, kini menjadi pusat pemulihan gizi bagi ratusan anak di kecamatan yang menghadapi angka stunting tinggi ini.
Bupati Kukar, Edi Damansyah meresmikan Rumah Bahagia sebagai langkah konkrit dalam upaya pemerintah daerah untuk mengatasi masalah gizi buruk pada anak. Kerja sama dengan perusahaan-perusahaan di sekitar wilayah ini, seperti PT MKH dan PT SKL, menjadi kunci keberhasilan program ini.
“Saya sering datang ke sini, melihat anak-anak bermain dan belajar. Namun, ada sesuatu yang mengusik hati saya ketika melihat beberapa dari mereka tampak kurang gizi,” kata Edi dalam sambutannya.
“Tempat ini awalnya hanya sebuah penitipan anak, tetapi saya tahu, dengan sedikit usaha lebih, tempat ini bisa menjadi pusat penanganan stunting yang efektif,” sambung Edi.
Adapun Rumah Bahagia yang didirikan pada 2012 lalu hanya digunakan sebagai tempat penitipan anak bagi para pekerja, terutama bagi ibu yang bekerja di seperti PT MKH dan PT SKL. Namun, dalam menekan angka stunting yang menjadi landasan menuju Generasi Emas 2045, Rumah Bahagia disulap menjadi wadah untuk program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) yang dilakukan serentak. Tujuannya agar dapat meningkatkan gizi anak-anak yang berpotensi mengalami stunting.
Peresmian rumah stunting ini pun mengacu pada data angka stunting di Kukar. Dari 20 kecamatan yang ada di Muara Kaman, 599 anak didiagnosis mengalami stunting, 18 anak mengalami gizi buruk, dan 147 anak lainnya mengalami gizi kurang.
“Angka-angka ini bukan hanya statistik,” ujar Edi dengan nada serius. “Ini adalah cermin dari kelalaian kita bersama. Jika tidak ada pengukuran serentak secara nasional, mungkin kita tidak akan pernah tahu kondisi sebenarnya dari anak-anak kita di Kukar. Ini adalah panggilan bagi kita semua untuk bertindak,” tambah orang nomor wahid di Kukar ini.
Di Rumah Bahagia, lanjut Edi, anak-anak tidak hanya mendapatkan asupan gizi yang cukup, tetapi juga edukasi bagi orangtua. Program PMT dan penyuluhan gizi akan menjadi fokus utama di Rumah Bahagia. Namun, ia juga menekankan pentingnya peran keluarga dalam mengatasi stunting.
“Orangtua adalah guru pertama bagi anak. Edukasi tentang gizi yang baik sejak dini sangat penting,” imbuhnya. “Muara Kaman harus 100 persen siap. (Rumah Bahagia) Ini bukan hanya tentang infrastruktur, tetapi tentang masa depan anak-anak kita. Kita tidak bisa lagi abai,” tambahnya mengakhiri. (Day)


