Prolog.co.id, Samarinda – Mekipun sepekan lalu, 120 ton stok beras Kota Tepian telah tersalurkan ke 24 ribu warga yang tersebar di 59 kelurahan, ketersedian beras masih mencukupi. Bahkan stok bahan pangan ini dipastikan bisa tercukupi hingga tiga bulan ke depan.
Kepala Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Bulog) Cabang Samarinda, Maradona Singal mengatakan jika stok beras untuk Kota Samarinda masih tersedia. Meskipun sebanyak 120 ton cadangan beras sudah tersalurkan melalui operasi pasar yang digelar di setiap kelurahan sejak 14 Februari lalu. Diprediksi ketersedian beras masih mencukupi hingga tiga bulan ke depan.
“Untuk stok sangat mencukupi. Prediksinya stok kita masih mencukupi sampai tiga bulan ke depan walaupun sudah keluar 120 ton,” ucapnya.
Maradona menerangkan tercukupinya ketersedian beras ini tak lepas dari langkah pemerintah pusat terkait import beras yang dilakukan akhir 2022 lalu. Ketika ketersedian beras lokal masih terkunci masa panen dan buruknya cuaca dalam distribusinya.
“Kalau produksi dalam negeri memang kita masih menunggu masa panen yang diprediksi bulan tiga nanti,” sebutnya.
Setidaknya, sebanyak 2.250 ton beras import Thailand di distribusikan ke Kota Tepian. Kuota beras ini menjadi cadangan pangan dalam menghadapi perayaan bulan Ramadhan dan Idul Fitri 2023 mendatang. Selain itu, diharapkan dengan banyaknya stok yang ada, lonjakan harga beras bisa ditekan.
“Ada 2.250 ton beras yang masuk untuk kota Samarinda. Ini merupakan beras import yang dari Thailand. Kalau untuk tiga bulan ke depan tentu sangat mencukupi,” tutupnya.
Senada dengan Maradona, Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Samarinda, Marnabas Patiroy juga mengatakan jika ketersedian beras beras Kota Tepian masih sangat tercukupi. Termasuk perdarannya di pasaran. Stok ini pun dipastikan masih bisa bertahan menjelang bulan Ramadhan dan Idul Fitri 2023.
“Untuk stok beras kita (Samarinda) masih banyak, dipasaran juga masih ada,” sebutnya.
Meskipun ketersedian masih melimpah, harga beras di pasaran memang mengalami kenaikan beberapa pekan terakhir. Menurut laman pantauan harga Disdag Samarinda, per tanggal 20 Februari, harga beras dolog mencapai Rp 9.950. Sedangkan untuk beras bengawan berkisar Rp 12.000 hingga Rp 13.500.
Menurut Marnabas kenaikan harga yang terjadi bukan akibat menipisnya stok yang ada. Melainkan akibat isu terkait beras kenaikan harga yang berseliweran. Alhasil, permintaan masyarakat kian melonjak akibat adanya fenomena panic buying.
“Memang ada isu (kenaikan harga beras) dari nasional. Makanya harga naik. Kita terdampak juga,” sebutnya.
Untuk mensiasatinya, operasi pasar murah menjadi salah satu langkah intervensi yang diambil. Namun, langkah ini nantinya tidak akan dilakukan secara rutin. Sebab, jika dilakukan secara terus-menerus, menurut Marnabas, bisa menyebabkan deflasi.
“Operasi pasar ini kan tujuannya untuk menekan inflasi yang terjadi juga. Jadi dengan adanya operasi pasar murah, beras ini tersampaikan ke masyarakat. Tapi nanti jika diperlukan operasi pasar lagi, bisa saja nanti dilakukan kembali,” tukasnya.
(Redaksi Prolog)
Ikuti berita prolog.co.id lainnya di Google News


